Selasa, 27 Agustus 2019

Mozaik 3 : TERBENTUR


    Dari Hal yang Kau Lakukan Dulu, Kau Bisa Melakukannya Hari Ini
karya : Tiara Ilfy Yanti



Dari buku antologi yang berjudul : Open Your Mind Get Your Happiness

project #NulisBukuBarengRobi


Seperti biasa gadis itu duduk di balkon kelas memandang langit. Mata tak berkedip sedikitpun, hingga sadar ruangan kelas tiba-tiba kosong. Berniat masuk ke ruangan itu tapi tak dia lakukan dan tetap saja memandang langit hingga senja. Mata dingin dengan raut wajah datarnya, seakan-akan siapapun tidak akan tahu apa yang ada dibenaknya. Jiwa penuh kesendirian melampisi ruang hidup selama di SMA hingga tak berubah sampai akhir semester yang akan ia lalui.

Angin semakin kencang menyelimuti diri. Berjam-jam sang tubuh kebal dengan kebekuan. Seakan berstereotip bahwa  hidup penuh dengan kebohongan yang dingin. Tiba-tiba mentari senja datang menyelimuti dinginnya sang waktu. Memancar  diwajah seraya jemari berusaha mengambil cahaya senja dengan cengkraman keyakinan. Saat membuka dia tak melihat apapun, penuh sesal hingga teriakan memecahkan atmosfer.

Esok pagi angin melaju ke rusuk secara perlahan. Kaki kaku menahan dinginnya pagi di kota hujan. Bekasan air di atap masih saja meluncur satu persatu. Hingga menunggu hadirnya mentari disana. Memandang dari jendela bergantungan origami unik yang agresif. Terombang-ambing oleh sentuhan angin. Sorang itu menatap tak berkedip, diam, bisu dan penuh teka-teki. Duduk membisu, tiba-tiba..

“Slevi, andai aku terlahir kembali dan memperbaiki luka lama. Apakah aku bisa memperbaikinya kembali seperti sediakala? Aku memang tidak bersalah, akan tetapi menahan malu sangat berbekas di dalam dada. Dari kecil aku tidak bisa berubah pasca itu. Aku merasa bahwa jiwa pengecut ada di dalam diriku. Apakah aku bisa seperti sediakala? Tersenyum ria, ekspesif dan penuh bakat untuk masa depan. Akan tetapi aku mulai membenci semua itu.” Kata Juanza panjang lebar.

“Za, tak usah kau bercakap seperti itu, tak ada gunanya berandai. Allah SWT tidak menyukai orang yang berandai-andai yang seakan-akan tidak mensyukuri nikmat-Nya. Sekarang ini yang musti kamu lakukan adalah jangan pernah melarikan diri dari sini. Menatap dan melangkahlah ke depan. Mengkaji masa lalu itu sudah terlalu jauh dan menyilaukan dari tempat ini, jadikanlah itu pembelajaran yang berharga,” sambil menepuk pundak dan tersenyum kepada Juanza.
“Tapi aku sudah berusaha keluar dari perasaan negatif. Akan tetapi setiap aku bergerak tidak ada perubahan sedikitpun. Aku semakin terpuruk dan terbentur. Tak akan berubah selain terbentur.” Balas Juanza.
“Kamu merasa ada yang berbedakah dari dirimu sendiri ?”
“Tidak, aku tidak berubah sedikitpun. Hanya jiwa kelam ini aku rasakan dari dulu. Sehingga aku lupa apa cita-citaku. Sekarang aku ingin mengakiri segalanya.”
“Ingatlah sahabatku, perubahan ke arah yang lebih baik itu butuh proses yang bertahap. Jangan paksakan hal itu terjadi dalam sekejap. Kamu mulai dari apa yang kamu bisa,” berdiri menutup jendela sambil melihat awan yang kian mendung. “Cobalah sahabatku. Pelan-pelan dan istiqomah pada cita-cita dan tujuanmu. Lupakan masa usang dan buang semua ke tempat yang tidak akan kamu temui lagi. Ambil salah satu memori yang membentuk dirimu. Aku yakin kamu bisa berjuang dengan versimu sendiri.”

Dari kisah dua sahabat diatas dapat kita pahami bahwa dalam  menghadapi suatu permasalah kita harus berprasangka baik dan berbenah secara pelan-pelan agar dapat membentuk diri lebih baik lagi untuk mencapai harapan dan cita-cita di masa depan. Sebab Allah SWT tidak akan memberi suatu cobaan yang melebihi kemampuan hambanya. Maka berjuanglah walaupun engkau terbentur, terbentur dan terbentur, lebih baik untuk bangkit berkali-kali daripada tidak ada satupun usaha.

                                             “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”
                                                                   (Tan Malaka)

Kilas balik apa yang pernah kita alami sebelumnya adalah pembelajaran berarti yang bisa kita jadikan rujukan di masa depan. Sebagai lecutan diri agar saling membentuk. Coba kita pahami hal-hal berikut. Sosok makhluk lahir dari rahim ibunya. Panas matahari sedikit memudar namun cahayanya tajam dan menyebar kemana-mana. Sore itu bagaikan kabar gembira sepasang kekasih yang saling berdoa akan kehadiran si buah hati. Manusia kecil, lembut, dan penuh kepolosan segera mengukir lembaran baru kehidupan. Baik dengan tinta apa dan warna apa, semua tergantung kedua orangtuanya. Coba bayangkan bahwa itu kamu. Terlahir  di masa pengharapan akan cita-cita, kesuksesan dan kekuatan sebagai tunas peradaban  bangsa yang akan abadi bersama karya-karya sederhana namun bermakna di masa depan.

Waktu terus berlalu.
Ingatkah saat kamu berusaha merangkak dari tidur. Terbentur.
Ingatkah saat kamu berusaha berdiri dari tanah. Terbentur.
Ingatkah saat kamu berusaha berlari dari diam. Terbentur.
Ingatkah saat kamu berusaha terbang dari kedalaman. Terbentur.

Di tengah usaha kamu terbentur jatuh ke tanah. Berusaha merangkak namun terbentur lagi. Dengan gigih akhirnya bisa merangkak cepat ke tempat tujuan. Dan seterusnya dari berdiri, berlari, dan terbang tidak lepas dari yang namanya terbentur. Bagimu itu adalah hal biasa yang tidak kamu sadari sewaktu kecil bahwa jiwa perjuangan itu ada pada darahmu. Terlahir ke dunia pun, kamu menghadapi jutaan seleksi hingga bayi yang ada di dalam kandungan Ibumu adalah dirimu. Sungguh luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mozaik 4 : ALAM

Bendera berkibar setengah tiang. Angin berhembus kencang membawa burung-burung terbang dengan penuh suka cita. Bola mata melirik ke kanan, k...