Zona
Nyaman
Karya : Tiara Ilfy Yanti
Dari buku antologi yang berjudul : Life is a Beautiful Ride
project #NulisBukuBarengRobi
Apakah
perempuan bisa mengubah dunia? Apakah perempuan bisa bepergian jauh untuk
menggapai impiannya selagi muda? Selagi perjuangan masih panjang. Di usia muda
perlunya pembekalan pada diri setiap manusia agar dapat menabung sedikit-demi
sedikit yang berangsur menjadi bukit, yakni amalan untuk akhirat nanti. Kita
tahu, setiap orang memiliki warna yang berbeda. Warna hidup dalam mengayunkan
auranya. Begitu juga diri kita sendiri harus bisa menggunakan warna tersendiri
agar dapat memberikan manfaat untuk kehidupan. Apalagi menyangkut mimpi seorang
perempuan. Mimpi suci yang muncul melalui hati nurani selagi muda dan jua
mempersiapkan segala kemungkinan yang datang.
Dalam
hidup ini ada banyak pilihan. Pastinya kematian adalah pilihan tak terelakkan
bagi setiap yang berjiwa. Lalu kita yang masih muda dan kuat untuk melakukan
segala hal. Apa yang telah kita lakukan selama ini? Hanya merengek dan menangis
saja menunggu datangnya uang dari orang tua, bermain-main menghabiskan waktu
dengan ngobrol, kuliah dengan ketidakseriusan memahami sebuah ilmu yang
bermanfaat, atau malah membuang waktu dengan kemewahan hidup duniawi saja.
Apakah kita pernah berfikir waktu yang selama ini terbuang sia-sia? Seringkali
melihat orang yang menghabiskan waktunya dengan beribadah, berdiskusi, belajar
dan bersosialisasi mendapatkan sebuah kekuatan pada dirinya. Berjuang karena
Allah SWT, lelah tapi lillah pasti
diberikan segala kemudahan untuknya. Maka tuntutlah ilmu dan tebarkanlah
kebaikan dengan warnamu, caramu, auramu untuk menghiasi cakrawala kehidupan.
Inilah
yang membuatku tersentuh untuk bangkit dan mencoba hal-hal baru untuk menghapus
segala beban di masa lalu. Beban bukan suatu musibah, melainkan sebuah lecutan
diri agar sadar dan ingat akan tujuan hidup. Allah SWT sudah memberi kita
warna-warni itu maka gunakan sebaik-baiknya. Gali dan perjuangkanlah selagi
nafasmu masih ada. Coba bayangkan disaat kita sakit, di sana kita dapat mengambil
pelajaran bahwa begitu pentingnya waktu dikala sehat. Maka jangan siakan waktu
sehatmu untuk berjuang. Lakukanlah dan buang segala ketidakmanfaatan dan
bertindaklah, Allah pasti membalas sesuai apa yang kita kerjakan.
Aku
berdoa, Allah kabulkan
Aku
bertaubat, Allah ampunkan
Aku
menangis, Allah tenangkan
Aku
berjuang, Allah berikan
Maka,
nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?
Berbagi
kisah dari ukiran sederhana dan semoga menjadi sebuah pembelajaran. Tidak
terasa waktu berjalan terlalu cepat. Serasa kemarin masih memakai baju putih
abu dan bersekolah di tempat yang tak pernah dilupakan. Masuk ke sana bahkan
sebuah bukti dari rahmat Allah SWT sehingga dipertemukan dengan orang-orang
yang luar biasa dan dipenuhi prestasi tanpa melupakan syariat islam. Disini aku
dahulunya menimba ilmu. Aku bagaikan seorang gadis biasa yang tinggal di kota
itu. Kecil nan sejuk dan masih sedikit sarana modren dibandingkan kota
metropolitan. Sekarang berangsur maju dengan kebijakan pemerintah kota. Meski tak dikenal banyak orang di pulau
seberang, tetapi setiap pengenalan diri aku tetap menyebutkan namanya; kota
Padang-Panjang. Relijius, kesejukan dan kenyamanan kota Serambi Mekah ini membuatku sulit untuk
melupakan segala elemen-elemennya. Begitu sulit, namunku akan tetap melalui
kehidupan baru ini. Bismillah.
Suara
jangkrik menggema dengan alunan merdu menghiasi cakrawala indraku. Lalu-lalang manusia
yang penuh sesak dan lincah menuju sebuah harapan hidup. Aku duduk sendirian
memandang kertas putih seraya mengukir pena-pena kehidupan yang rapuh, semu dan
penuh lika-liku. Berharap agar bertemu hal-hal baru yang sejatinya berbentuk
ketekatan birru. Aku tahu, hidup ini
masih saja dihantui perasaan dari gejolak masa lalu. Menyakitkan dan penuh arti
yang bahkan aku tidak bisa melupakannya sedikitpun. Melupakan memang bisa
dipaksakan, namun bekas itu tidak akan pernah pudar di dalam sebuah kepolosan hati
yang membisu.
Semua
itu lembaran usang. Ku akhiri segalanya saat mendengar seruan Tuhanku untuk
bersujud meminta ampun atas perasaan yang kabur dan berusaha keras berada di
luar zona nyamanku. Memang merasa lelah, sulit, dan penuh tantangan. Ya, kalau
tidak apakah aku harus seperti ini saja? Tentu tidak! Karena aku yakin bahwa
Allah SWT selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya yang sabar. Coba
bayangkan seorang pemuda keterbelakangan mental harus keluar dari zona nyamannya. Bukan sebuah
keterbelakangan mental tulen, melainkan akibat perasaan lampau yang dihadapinya
semasa kecil yang berpengaruh buruk sampai
diusia berikut. Hidupnya penuh rasa cemas, takut, tidak nyaman dengan dunia
luar sehingga membuatnya memilih untuk mengurung diri dan hidup dengan dunia
imajinasinya yang akut.
Di
hari selanjutnya dia bertemu teman-teman baru dengan penuh sikap
kekanak-kanakan. Pada saat itulah pelabelan melekat pada dirinya dan hingga
sekarang menjadi suatu hal yang sering dia lakukan. Jika dipandang dalam keadaan
psikologi anak, pelabelan berefek buruk atas perkembangan sikap anak. Apalagi menyangkut
hal-hal negatif dalam perkembangan jati diri. Selagi
tidak bisa melupakan bukan berarti menjadi hambatan untuk membuka pintu masa
depan. Malah merasa tercambuk untuk berlari kencang menuju cakrawala. Berniat
dengan penuh niat mengubah diri menjadi lebih baik dan bernilai guna untuk
kelayak banyak. Yakin bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi
orang lain sebagai amalan jariyah di kehidupan akhirat.
Berbalik
lagi ke masa silam. Saatku harus mempenakan mimpi-mimpi di langit-langit
kamar dengan strategi matang dan tepat
pusaran untuk memilih tempat yang penuh tantangan dengan segenap tenaga yang
harus dicurahkan. Awalnya memilih tempat yang diminati banyak orang malah
sekarang mengubah haluan ketempat yang berbeda. Di sana orator sangat dibutuhkan sebagai
penunjang dunia pengabdian. Aku memilih bukan berarti untuk menyiksa diri di
dalam sangkar yang kelam. Memilih untuk mengasah dan membakar api semangat diri
untuk menjadi manusia yang siap berkibrah dalam dunia pengabdian maupun kesastraan,
seperti sosok Bung Hatta, Buya Hamka, Taufik Ismail dan masih banyak lagi
para-para inspirator dengan karya gemilang lainnya. Mereka selain orator, juga
menyumbangkan sebuah karya yang luar biasa, abadi dan bernilai guna bagi
orang-orang berikutnya. Mereka pemuda tangguh dalam memperjaungkan nasib orang
banyak melalui revolusi pemikiran dan pembaharuan. Dari kedua hal ini memiliki
kisah tersendiri yang membuatku ingin lebih mendekat dan fokus untuk membuat
diri ini memiliki nilai guna untuk kehidupan nantinya.
Masa
depan. Memang masa depanlah yang ada di benakku. Visioner untuk merencanakan
suatu hal sudah melekat pada diri semenjak sadar akan apa tujuan sampai ke
titik ini. Allah SWT telah memberikan jalan dari sebuah coretan lama yang
masihku simpan dan bahkan aku bawa ke negri sembrang. Semuanya atas usaha, niat
dan doa dari orang-orang yang aku sayangi. Sempat merasa perjalan ini terhenti
sejenak akan keterbatasan mental dan materil untuk menggores kehidupan baru. Berusaha
mencari jalan keluar untuk dapat meraihnya dan membuktikan niatku untuk dapat
mengubah suatu sistem usang ke sistem yang terarah. Ku pilih dan memperjuangkan
semuanya dengan menggali segala informasi terkait beasiswa untuk kuliah.
Memang, saat itu kondisi perekonomian keluargaku sangat minim. Ibuku sebagai
ibu rumah tangga yang sekarang menolong Nenek berdagang, dan Ayahku sebagai buruh
Rumah Makan Padang di Rantau membanting tulang siang dan malam. Keadaan fisik
mereka tidak sebegitu kuat dari masa dahulu karena faktor usia, Nenek dari
keluarga Ibuku yang selalu membatu pekonomian kami sering sakit dan kecapean
serta Nenek dan Kakek dari keluarga Ayah juga merasakan hal sama. Aku sempat
pasrah dan ingin menghentikan segala harapan palsu. Sempat coretan kertas di
langit-langit kamar seakan menjadi mimpi belaka yang berdebu tanpa ada sebuah
pembuktian dan tawaan orang-orang atas mimpi-mimpi belaka.
Hari
terus berjalan, tiba saatnya aku ingin bangkit kembali dan menumbuhkan niat
awal untuk menjadi semakin kuat karena tidak ada sebuah perjuangan tanpa batu
kerikil dan batu besar yang dilalui terlebih dahulu. Saat kita mempunyai niat
lalu sudah berusaha dan jatuh kembali, itu tidak apa-apa asalkan kembali
bangkit dan melupakan hal yang tidak menunjang
tujuan awalku. Kemarin aku melaksanakan coaching bersama pembina
asramaku di Beastudi Etos wilayah Bandung. Ku luapkan segalanya atas beban berat yang membuatku berfikiran negatif lagi
akan sebuah identitas kuat yang kupegang saat ini. Sempat ambruk oleh angin
kencang dan berusaha keras untuk berdiri ke titik awal. Pembinaku bilang, coba
bayangkan ada dua ekor katak, yang satu tuli dan satunya tidak. Mereka sedang
melakukan perlombaan lari yang dihadiri oleh ribuan katak lainnya. Saat lari,
katak yang tuli fokus mencapai garis finis sedangkan katak yang tidak tuli tidak
konsentrasi akibat sorakan katak lainnya. Dari gambaran ini kita diajarkan
untuk berkonsentrasi dalam menggapai impian tanpa mendengar kata-kata yang tidak
menunjang kesuksessan. Bangkit dan berusahalah walaupun kita berada di luar
zona nyaman. Sebab jika kamu keluar dari zona nyaman untuk fokus kepada tujuan
suci, insyaallah pasti Allah SWT
memberikan kekuatan dan kemudahan untuk kita. Maka jangan pernah takut keluar
dari zona nyaman. Lupakan segala penghambat dan raihlah masa depan yang lebih
cerah. Maka sebagai perempuan dan juga pemuda, “you can do it!”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar