Selasa, 27 Agustus 2019

Mozaik 1 : MERANTAU


Zona Nyaman

Karya : Tiara Ilfy Yanti

Dari buku antologi yang berjudul : Life is a Beautiful Ride

project #NulisBukuBarengRobi



Apakah perempuan bisa mengubah dunia? Apakah perempuan bisa bepergian jauh untuk menggapai impiannya selagi muda? Selagi perjuangan masih panjang. Di usia muda perlunya pembekalan pada diri setiap manusia agar dapat menabung sedikit-demi sedikit yang berangsur menjadi bukit, yakni amalan untuk akhirat nanti. Kita tahu, setiap orang memiliki warna yang berbeda. Warna hidup dalam mengayunkan auranya. Begitu juga diri kita sendiri harus bisa menggunakan warna tersendiri agar dapat memberikan manfaat untuk kehidupan. Apalagi menyangkut mimpi seorang perempuan. Mimpi suci yang muncul melalui hati nurani selagi muda dan jua mempersiapkan segala kemungkinan yang datang.

Dalam hidup ini ada banyak pilihan. Pastinya kematian adalah pilihan tak terelakkan bagi setiap yang berjiwa. Lalu kita yang masih muda dan kuat untuk melakukan segala hal. Apa yang telah kita lakukan selama ini? Hanya merengek dan menangis saja menunggu datangnya uang dari orang tua, bermain-main menghabiskan waktu dengan ngobrol, kuliah dengan ketidakseriusan memahami sebuah ilmu yang bermanfaat, atau malah membuang waktu dengan kemewahan hidup duniawi saja. Apakah kita pernah berfikir waktu yang selama ini terbuang sia-sia? Seringkali melihat orang yang menghabiskan waktunya dengan beribadah, berdiskusi, belajar dan bersosialisasi mendapatkan sebuah kekuatan pada dirinya. Berjuang karena Allah SWT, lelah tapi lillah pasti diberikan segala kemudahan untuknya. Maka tuntutlah ilmu dan tebarkanlah kebaikan dengan warnamu, caramu, auramu untuk menghiasi cakrawala kehidupan.

Inilah yang membuatku tersentuh untuk bangkit dan mencoba hal-hal baru untuk menghapus segala beban di masa lalu. Beban bukan suatu musibah, melainkan sebuah lecutan diri agar sadar dan ingat akan tujuan hidup. Allah SWT sudah memberi kita warna-warni itu maka gunakan sebaik-baiknya. Gali dan perjuangkanlah selagi nafasmu masih ada. Coba bayangkan disaat kita sakit, di sana kita dapat mengambil pelajaran bahwa begitu pentingnya waktu dikala sehat. Maka jangan siakan waktu sehatmu untuk berjuang. Lakukanlah dan buang segala ketidakmanfaatan dan bertindaklah, Allah pasti membalas sesuai apa yang kita kerjakan.

Aku  berdoa, Allah kabulkan
Aku bertaubat, Allah ampunkan
Aku menangis, Allah tenangkan
Aku berjuang, Allah berikan
Maka, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?

Berbagi kisah dari ukiran sederhana dan semoga menjadi sebuah pembelajaran. Tidak terasa waktu berjalan terlalu cepat. Serasa kemarin masih memakai baju putih abu dan bersekolah di tempat yang tak pernah dilupakan. Masuk ke sana bahkan sebuah bukti dari rahmat Allah SWT sehingga dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa dan dipenuhi prestasi tanpa melupakan syariat islam. Disini aku dahulunya menimba ilmu. Aku bagaikan seorang gadis biasa yang tinggal di kota itu. Kecil nan sejuk dan masih sedikit sarana modren dibandingkan kota metropolitan. Sekarang berangsur maju dengan kebijakan pemerintah kota.  Meski tak dikenal banyak orang di pulau seberang, tetapi setiap pengenalan diri aku tetap menyebutkan namanya; kota Padang-Panjang. Relijius, kesejukan dan kenyamanan  kota Serambi Mekah ini membuatku sulit untuk melupakan segala elemen-elemennya. Begitu sulit, namunku akan tetap melalui kehidupan baru ini. Bismillah.

Suara jangkrik menggema dengan alunan merdu menghiasi cakrawala indraku. Lalu-lalang manusia yang penuh sesak dan lincah menuju sebuah harapan hidup. Aku duduk sendirian memandang kertas putih seraya mengukir pena-pena kehidupan yang rapuh, semu dan penuh lika-liku. Berharap agar bertemu hal-hal baru yang sejatinya berbentuk ketekatan birru. Aku tahu,  hidup ini masih saja dihantui perasaan dari gejolak masa lalu. Menyakitkan dan penuh arti yang bahkan aku tidak bisa melupakannya sedikitpun. Melupakan memang bisa dipaksakan, namun bekas itu tidak akan pernah pudar di dalam sebuah kepolosan hati yang membisu.

Semua itu lembaran usang. Ku akhiri segalanya saat mendengar seruan Tuhanku untuk bersujud meminta ampun atas perasaan yang kabur dan berusaha keras berada di luar zona nyamanku. Memang merasa lelah, sulit, dan penuh tantangan. Ya, kalau tidak apakah aku harus seperti ini saja? Tentu tidak! Karena aku yakin bahwa Allah SWT selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya yang sabar. Coba bayangkan seorang pemuda keterbelakangan mental harus  keluar dari zona nyamannya. Bukan sebuah keterbelakangan mental tulen, melainkan akibat perasaan lampau yang dihadapinya semasa kecil yang berpengaruh buruk  sampai diusia berikut. Hidupnya penuh rasa cemas, takut, tidak nyaman dengan dunia luar sehingga membuatnya memilih untuk mengurung diri dan hidup dengan dunia imajinasinya yang akut.

Di hari selanjutnya dia bertemu teman-teman baru dengan penuh sikap kekanak-kanakan. Pada saat itulah pelabelan melekat pada dirinya dan hingga sekarang menjadi suatu hal yang sering dia lakukan. Jika dipandang dalam keadaan psikologi anak, pelabelan berefek buruk atas perkembangan sikap anak. Apalagi menyangkut hal-hal negatif dalam perkembangan jati diri. Selagi tidak bisa melupakan bukan berarti menjadi hambatan untuk membuka pintu masa depan. Malah merasa tercambuk untuk berlari kencang menuju cakrawala. Berniat dengan penuh niat mengubah diri menjadi lebih baik dan bernilai guna untuk kelayak banyak. Yakin bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain sebagai amalan jariyah di kehidupan akhirat.

Berbalik lagi ke masa silam. Saatku harus mempenakan mimpi-mimpi di langit-langit kamar  dengan strategi matang dan tepat pusaran untuk memilih tempat yang penuh tantangan dengan segenap tenaga yang harus dicurahkan. Awalnya memilih tempat yang diminati banyak orang malah sekarang mengubah haluan ketempat yang berbeda.  Di sana orator sangat dibutuhkan sebagai penunjang dunia pengabdian. Aku memilih bukan berarti untuk menyiksa diri di dalam sangkar yang kelam. Memilih untuk mengasah dan membakar api semangat diri untuk menjadi manusia yang siap berkibrah dalam dunia pengabdian maupun kesastraan, seperti sosok Bung Hatta, Buya Hamka, Taufik Ismail dan masih banyak lagi para-para inspirator dengan karya gemilang lainnya. Mereka selain orator, juga menyumbangkan sebuah karya yang luar biasa, abadi dan bernilai guna bagi orang-orang berikutnya. Mereka pemuda tangguh dalam memperjaungkan nasib orang banyak melalui revolusi pemikiran dan pembaharuan. Dari kedua hal ini memiliki kisah tersendiri yang membuatku ingin lebih mendekat dan fokus untuk membuat diri ini memiliki nilai guna untuk kehidupan nantinya.

Masa depan. Memang masa depanlah yang ada di benakku. Visioner untuk merencanakan suatu hal sudah melekat pada diri semenjak sadar akan apa tujuan sampai ke titik ini. Allah SWT telah memberikan jalan dari sebuah coretan lama yang masihku simpan dan bahkan aku bawa ke negri sembrang. Semuanya atas usaha, niat dan doa dari orang-orang yang aku sayangi. Sempat merasa perjalan ini terhenti sejenak akan keterbatasan mental dan materil untuk menggores kehidupan baru. Berusaha mencari jalan keluar untuk dapat meraihnya dan membuktikan niatku untuk dapat mengubah suatu sistem usang ke sistem yang terarah. Ku pilih dan memperjuangkan semuanya dengan menggali segala informasi terkait beasiswa untuk kuliah. Memang, saat itu kondisi perekonomian keluargaku sangat minim. Ibuku sebagai ibu rumah tangga yang sekarang menolong Nenek berdagang, dan Ayahku sebagai buruh Rumah Makan Padang di Rantau membanting tulang siang dan malam. Keadaan fisik mereka tidak sebegitu kuat dari masa dahulu karena faktor usia, Nenek dari keluarga Ibuku yang selalu membatu pekonomian kami sering sakit dan kecapean serta Nenek dan Kakek dari keluarga Ayah juga merasakan hal sama. Aku sempat pasrah dan ingin menghentikan segala harapan palsu. Sempat coretan kertas di langit-langit kamar seakan menjadi mimpi belaka yang berdebu tanpa ada sebuah pembuktian dan tawaan orang-orang atas mimpi-mimpi belaka.

Hari terus berjalan, tiba saatnya aku ingin bangkit kembali dan menumbuhkan niat awal untuk menjadi semakin kuat karena tidak ada sebuah perjuangan tanpa batu kerikil dan batu besar yang dilalui terlebih dahulu. Saat kita mempunyai niat lalu sudah berusaha dan jatuh kembali, itu tidak apa-apa asalkan kembali bangkit dan melupakan hal yang tidak menunjang  tujuan awalku. Kemarin aku melaksanakan coaching bersama pembina asramaku di Beastudi Etos wilayah Bandung. Ku luapkan segalanya atas beban  berat yang membuatku berfikiran negatif lagi akan sebuah identitas kuat yang kupegang saat ini. Sempat ambruk oleh angin kencang dan berusaha keras untuk berdiri ke titik awal. Pembinaku bilang, coba bayangkan ada dua ekor katak, yang satu tuli dan satunya tidak. Mereka sedang melakukan perlombaan lari yang dihadiri oleh ribuan katak lainnya. Saat lari, katak yang tuli fokus mencapai garis finis sedangkan katak yang tidak tuli tidak konsentrasi akibat sorakan katak lainnya. Dari gambaran ini kita diajarkan untuk berkonsentrasi dalam menggapai impian tanpa mendengar kata-kata yang tidak menunjang kesuksessan. Bangkit dan berusahalah walaupun kita berada di luar zona nyaman. Sebab jika kamu keluar dari zona nyaman untuk fokus kepada tujuan suci, insyaallah pasti Allah SWT memberikan kekuatan dan kemudahan untuk kita. Maka jangan pernah takut keluar dari zona nyaman. Lupakan segala penghambat dan raihlah masa depan yang lebih cerah. Maka sebagai perempuan dan juga pemuda, “you can do it!”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mozaik 4 : ALAM

Bendera berkibar setengah tiang. Angin berhembus kencang membawa burung-burung terbang dengan penuh suka cita. Bola mata melirik ke kanan, k...