Dari Hal yang Kau Lakukan Dulu, Kau
Bisa Melakukannya Hari Ini
karya : Tiara Ilfy Yanti
karya : Tiara Ilfy Yanti
Dari buku antologi yang berjudul : Open Your Mind Get Your Happiness
project #NulisBukuBarengRobi
Seperti biasa gadis itu duduk di
balkon kelas memandang langit. Mata tak berkedip sedikitpun, hingga sadar
ruangan kelas tiba-tiba kosong. Berniat masuk ke ruangan itu tapi tak dia
lakukan dan tetap saja memandang langit hingga senja. Mata dingin dengan raut
wajah datarnya, seakan-akan siapapun tidak akan tahu apa yang ada dibenaknya.
Jiwa penuh kesendirian melampisi ruang hidup selama di SMA hingga tak berubah
sampai akhir semester yang akan ia lalui.
Angin semakin kencang menyelimuti
diri. Berjam-jam sang tubuh kebal dengan kebekuan. Seakan berstereotip
bahwa hidup penuh dengan kebohongan yang
dingin. Tiba-tiba mentari senja datang menyelimuti dinginnya sang waktu.
Memancar diwajah seraya jemari berusaha
mengambil cahaya senja dengan cengkraman keyakinan. Saat membuka dia tak
melihat apapun, penuh sesal hingga teriakan memecahkan atmosfer.
Esok pagi angin melaju ke rusuk
secara perlahan. Kaki kaku menahan dinginnya pagi di kota hujan. Bekasan air di
atap masih saja meluncur satu persatu. Hingga menunggu hadirnya mentari disana.
Memandang dari jendela bergantungan origami unik yang agresif. Terombang-ambing
oleh sentuhan angin. Sorang itu menatap tak berkedip, diam, bisu dan penuh
teka-teki. Duduk membisu, tiba-tiba..
“Slevi,
andai aku terlahir kembali dan memperbaiki luka lama. Apakah aku bisa
memperbaikinya kembali seperti sediakala? Aku memang tidak bersalah, akan
tetapi menahan malu sangat berbekas di dalam dada. Dari kecil aku tidak bisa
berubah pasca itu. Aku merasa bahwa jiwa pengecut ada di dalam diriku. Apakah
aku bisa seperti sediakala? Tersenyum ria, ekspesif dan penuh bakat untuk masa
depan. Akan tetapi aku mulai membenci semua itu.” Kata Juanza panjang lebar.
“Za,
tak usah kau bercakap seperti itu, tak ada gunanya berandai. Allah SWT tidak
menyukai orang yang berandai-andai yang seakan-akan tidak mensyukuri
nikmat-Nya. Sekarang ini yang musti kamu lakukan adalah jangan pernah melarikan
diri dari sini. Menatap dan melangkahlah ke depan. Mengkaji masa lalu itu sudah
terlalu jauh dan menyilaukan dari tempat ini, jadikanlah itu pembelajaran yang
berharga,” sambil menepuk pundak dan tersenyum kepada Juanza.
“Tapi aku sudah berusaha keluar dari perasaan
negatif. Akan tetapi setiap aku bergerak tidak ada perubahan sedikitpun. Aku
semakin terpuruk dan terbentur. Tak akan berubah selain terbentur.” Balas
Juanza.
“Kamu merasa ada yang berbedakah dari dirimu
sendiri ?”
“Tidak,
aku tidak berubah sedikitpun. Hanya jiwa kelam ini aku rasakan dari dulu.
Sehingga aku lupa apa cita-citaku. Sekarang aku ingin mengakiri segalanya.”
“Ingatlah
sahabatku, perubahan ke arah yang lebih baik itu butuh proses yang bertahap.
Jangan paksakan hal itu terjadi dalam sekejap. Kamu mulai dari apa yang kamu
bisa,” berdiri menutup jendela sambil melihat awan yang kian mendung. “Cobalah
sahabatku. Pelan-pelan dan istiqomah pada cita-cita dan tujuanmu. Lupakan masa
usang dan buang semua ke tempat yang tidak akan kamu temui lagi. Ambil salah
satu memori yang membentuk dirimu. Aku yakin kamu bisa berjuang dengan versimu
sendiri.”
Dari
kisah dua sahabat diatas dapat kita pahami bahwa dalam menghadapi suatu permasalah kita harus
berprasangka baik dan berbenah secara pelan-pelan agar dapat membentuk diri
lebih baik lagi untuk mencapai harapan dan cita-cita di masa depan. Sebab Allah
SWT tidak akan memberi suatu cobaan yang melebihi kemampuan hambanya. Maka
berjuanglah walaupun engkau terbentur, terbentur dan terbentur, lebih baik untuk
bangkit berkali-kali daripada tidak ada satupun usaha.
“Terbentur, terbentur, terbentur,
terbentuk.”
(Tan Malaka)
Kilas
balik apa yang pernah kita alami sebelumnya adalah pembelajaran berarti yang
bisa kita jadikan rujukan di masa depan. Sebagai lecutan diri agar saling
membentuk. Coba kita pahami hal-hal berikut. Sosok
makhluk lahir dari rahim ibunya. Panas matahari sedikit memudar namun cahayanya
tajam dan menyebar kemana-mana. Sore itu bagaikan kabar gembira sepasang
kekasih yang saling berdoa akan kehadiran si buah hati. Manusia kecil, lembut,
dan penuh kepolosan segera mengukir lembaran baru kehidupan. Baik dengan tinta
apa dan warna apa, semua tergantung kedua orangtuanya. Coba bayangkan bahwa itu kamu.
Terlahir di masa pengharapan akan
cita-cita, kesuksesan dan kekuatan sebagai tunas peradaban bangsa yang akan abadi bersama karya-karya
sederhana namun bermakna di masa depan.
Waktu
terus berlalu.
Ingatkah
saat kamu berusaha merangkak dari tidur. Terbentur.
Ingatkah
saat kamu berusaha berdiri dari tanah. Terbentur.
Ingatkah
saat kamu berusaha berlari dari diam. Terbentur.
Ingatkah
saat kamu berusaha terbang dari kedalaman. Terbentur.
Di
tengah usaha kamu terbentur jatuh ke tanah. Berusaha merangkak namun terbentur
lagi. Dengan gigih akhirnya bisa merangkak cepat ke tempat tujuan. Dan
seterusnya dari berdiri, berlari, dan terbang tidak lepas dari yang namanya
terbentur. Bagimu itu adalah hal biasa yang tidak kamu sadari sewaktu kecil
bahwa jiwa perjuangan itu ada pada darahmu. Terlahir ke dunia pun, kamu
menghadapi jutaan seleksi hingga bayi yang ada di dalam kandungan Ibumu adalah
dirimu. Sungguh luar biasa.



