Rabu, 30 September 2020

Mozaik 4 : ALAM

Bendera berkibar setengah tiang. Angin berhembus kencang membawa burung-burung terbang dengan penuh suka cita. Bola mata melirik ke kanan, ke kiri dan ke depan menyisakan rasa menjalar penuh makna. Saat bola mata menatap satu titik. Sembari, menghirup udara yang semakin menjadi-jadi. Cahya kerlap kerlip dari bola gas itu dimainkan awan hingga masuk ke rongga dada. Udara itu amat sejuk dan menyejukkan rasa.

.....Sungguh rasa syukur ini amat mendalam atas waktu yang telah Allah berikan....

Tiba saat ku perlahan menutup mata sejenak menikmati suara alam dengan alunan melodi nan menyatu menjadi obat manjur ala jiwa. Manjur dan mudah di dapatkan bagi setiap diri yang menyisakan waktu ke sana.

Bola mata kembali menilik satu per satu pepohonan. Sungguh, kenapa pepohonan ini beragam bentuknya? Ada yang tinggi lebat daunnya, ada yang tinggi tipis daunnya, ada yang pendek lebat daunya, ada yang pendek tipis daunnya dan ada yang tak berdaun tapi menjualang tinggi,  dst. Jika dipandang dari segi warna daunnya ada yang berwarna hijau, hijau kekuningan, kuning, coklat dst. Keragaman itu meyilang menjadi satu pohon yang unik. 

Masya Allah.. 

Dengan mata yang Allah berikan, ada sebuah pesan tersendiri dari setiap yang tertangkap oleh mata. Sedikit, sekecil dan secuil apapun itu.

Disini ku dapatkan, bahwa setiap manusia memiliki warnanya tersendiri. Tak ada yang identik meski kembar pun. Setiap individu-individu pasti memiliki keunikan yang saling menyatu dan menyatukan. 

Terkait keberhasilan setiap orang, tak bisa kita jadikan sebuah persamaan. Kita punya energi, interpretasi dan daya masing-masing. Jika kita menengok kepada daya, energi dan warna kita sendiri, yakinlah bahwa kebahagiaan sebenarnya itu akan terlahir. 

Kita punya Allah yang memberikan amanah untuk melewati jembatan ini. Pastinya pada diri kita terdapat kemampuan, kekuatan dan energi sebagai sarana menuju tujuan kehidupan. 

Maka, tenang.. Jangan khawatir... 

Gunakan apa yang telah Allah berikan kepada diri kita. Tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. 

Ketahuilah, hakikat hidup manusia kembali kepada diri sendiri. Seberapa berartikah hidup kita? Seberapa bermanfaatkah diri kita? Maka jangan sia-siakan apa yang ada pada diri untuk dikembangkan sebagai sarana menuju Ridho-Nya Sang Ilahi.

Inilah pesan yang aku dapatkan. Memberikan lecutan untuk menghargai apa yang ada pada diri. Apa yang telah Allah beri. Semoga kita dapat mengoptimalkan hal itu dengan ragam cara, teknik, dan energi masing-masing. Dengan tetap memandang dan meresapi navigasi kehidupan kita, yakni Al-Qur'an dan Sunnah. 


Apakah kita bisa? pasti bisa. 

Sungguh, Allah melihat proses kita, usaha keras kita. 🙂


#selfreminder

📝Birru Lembayuna

Selasa, 27 Agustus 2019

Mozaik 3 : TERBENTUR


    Dari Hal yang Kau Lakukan Dulu, Kau Bisa Melakukannya Hari Ini
karya : Tiara Ilfy Yanti



Dari buku antologi yang berjudul : Open Your Mind Get Your Happiness

project #NulisBukuBarengRobi


Seperti biasa gadis itu duduk di balkon kelas memandang langit. Mata tak berkedip sedikitpun, hingga sadar ruangan kelas tiba-tiba kosong. Berniat masuk ke ruangan itu tapi tak dia lakukan dan tetap saja memandang langit hingga senja. Mata dingin dengan raut wajah datarnya, seakan-akan siapapun tidak akan tahu apa yang ada dibenaknya. Jiwa penuh kesendirian melampisi ruang hidup selama di SMA hingga tak berubah sampai akhir semester yang akan ia lalui.

Angin semakin kencang menyelimuti diri. Berjam-jam sang tubuh kebal dengan kebekuan. Seakan berstereotip bahwa  hidup penuh dengan kebohongan yang dingin. Tiba-tiba mentari senja datang menyelimuti dinginnya sang waktu. Memancar  diwajah seraya jemari berusaha mengambil cahaya senja dengan cengkraman keyakinan. Saat membuka dia tak melihat apapun, penuh sesal hingga teriakan memecahkan atmosfer.

Esok pagi angin melaju ke rusuk secara perlahan. Kaki kaku menahan dinginnya pagi di kota hujan. Bekasan air di atap masih saja meluncur satu persatu. Hingga menunggu hadirnya mentari disana. Memandang dari jendela bergantungan origami unik yang agresif. Terombang-ambing oleh sentuhan angin. Sorang itu menatap tak berkedip, diam, bisu dan penuh teka-teki. Duduk membisu, tiba-tiba..

“Slevi, andai aku terlahir kembali dan memperbaiki luka lama. Apakah aku bisa memperbaikinya kembali seperti sediakala? Aku memang tidak bersalah, akan tetapi menahan malu sangat berbekas di dalam dada. Dari kecil aku tidak bisa berubah pasca itu. Aku merasa bahwa jiwa pengecut ada di dalam diriku. Apakah aku bisa seperti sediakala? Tersenyum ria, ekspesif dan penuh bakat untuk masa depan. Akan tetapi aku mulai membenci semua itu.” Kata Juanza panjang lebar.

“Za, tak usah kau bercakap seperti itu, tak ada gunanya berandai. Allah SWT tidak menyukai orang yang berandai-andai yang seakan-akan tidak mensyukuri nikmat-Nya. Sekarang ini yang musti kamu lakukan adalah jangan pernah melarikan diri dari sini. Menatap dan melangkahlah ke depan. Mengkaji masa lalu itu sudah terlalu jauh dan menyilaukan dari tempat ini, jadikanlah itu pembelajaran yang berharga,” sambil menepuk pundak dan tersenyum kepada Juanza.
“Tapi aku sudah berusaha keluar dari perasaan negatif. Akan tetapi setiap aku bergerak tidak ada perubahan sedikitpun. Aku semakin terpuruk dan terbentur. Tak akan berubah selain terbentur.” Balas Juanza.
“Kamu merasa ada yang berbedakah dari dirimu sendiri ?”
“Tidak, aku tidak berubah sedikitpun. Hanya jiwa kelam ini aku rasakan dari dulu. Sehingga aku lupa apa cita-citaku. Sekarang aku ingin mengakiri segalanya.”
“Ingatlah sahabatku, perubahan ke arah yang lebih baik itu butuh proses yang bertahap. Jangan paksakan hal itu terjadi dalam sekejap. Kamu mulai dari apa yang kamu bisa,” berdiri menutup jendela sambil melihat awan yang kian mendung. “Cobalah sahabatku. Pelan-pelan dan istiqomah pada cita-cita dan tujuanmu. Lupakan masa usang dan buang semua ke tempat yang tidak akan kamu temui lagi. Ambil salah satu memori yang membentuk dirimu. Aku yakin kamu bisa berjuang dengan versimu sendiri.”

Dari kisah dua sahabat diatas dapat kita pahami bahwa dalam  menghadapi suatu permasalah kita harus berprasangka baik dan berbenah secara pelan-pelan agar dapat membentuk diri lebih baik lagi untuk mencapai harapan dan cita-cita di masa depan. Sebab Allah SWT tidak akan memberi suatu cobaan yang melebihi kemampuan hambanya. Maka berjuanglah walaupun engkau terbentur, terbentur dan terbentur, lebih baik untuk bangkit berkali-kali daripada tidak ada satupun usaha.

                                             “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”
                                                                   (Tan Malaka)

Kilas balik apa yang pernah kita alami sebelumnya adalah pembelajaran berarti yang bisa kita jadikan rujukan di masa depan. Sebagai lecutan diri agar saling membentuk. Coba kita pahami hal-hal berikut. Sosok makhluk lahir dari rahim ibunya. Panas matahari sedikit memudar namun cahayanya tajam dan menyebar kemana-mana. Sore itu bagaikan kabar gembira sepasang kekasih yang saling berdoa akan kehadiran si buah hati. Manusia kecil, lembut, dan penuh kepolosan segera mengukir lembaran baru kehidupan. Baik dengan tinta apa dan warna apa, semua tergantung kedua orangtuanya. Coba bayangkan bahwa itu kamu. Terlahir  di masa pengharapan akan cita-cita, kesuksesan dan kekuatan sebagai tunas peradaban  bangsa yang akan abadi bersama karya-karya sederhana namun bermakna di masa depan.

Waktu terus berlalu.
Ingatkah saat kamu berusaha merangkak dari tidur. Terbentur.
Ingatkah saat kamu berusaha berdiri dari tanah. Terbentur.
Ingatkah saat kamu berusaha berlari dari diam. Terbentur.
Ingatkah saat kamu berusaha terbang dari kedalaman. Terbentur.

Di tengah usaha kamu terbentur jatuh ke tanah. Berusaha merangkak namun terbentur lagi. Dengan gigih akhirnya bisa merangkak cepat ke tempat tujuan. Dan seterusnya dari berdiri, berlari, dan terbang tidak lepas dari yang namanya terbentur. Bagimu itu adalah hal biasa yang tidak kamu sadari sewaktu kecil bahwa jiwa perjuangan itu ada pada darahmu. Terlahir ke dunia pun, kamu menghadapi jutaan seleksi hingga bayi yang ada di dalam kandungan Ibumu adalah dirimu. Sungguh luar biasa.

Mozaik 2 : TEKAD

Berangkat Membawa Tekad, Pulang Membawa Bekal
Tiara Ilfy Yanti - Ilmu Pemerintahan UNPAD 2017

Perjalanan yang masih tergolong singkat dan penuh teka-teki. Saat itu keplin-plannan masih saja hadir sampai waktu berujung detik. Aku seorang gadis biasa dari kota kecil, Padang Panjang nan sejuk dan masih sedikit sarana modren dibandingkan kota Metropolitan, tak sempurna, dan masih dibilang ingusan. Untuk berjalan sendirian tidak sanggup tanpa mancusuar, restu ilahi beserta orangtua. Aku yakin pada satu kalimat motivasi; Man Jadda Wajada”. Berjuta jalan akan terbentang bagi orang yang bersunguh-sungguh mengubah nasibnya.


Gedung D FISIP UNPAD, Universitas Padjajaran

Saat itu aku hanya memiliki visi, timbul dari hati nurani. Terfikir bagaimana aku hidup jika hanya bekerja untuk diri sendiri. Terfikir untuk apa aku hidup jika hanya bekerja untuk uang, uang dan uang saja tanpa melihat senyuman orang-orang disekitar. Aku tahu, mewujudkannya butuh keringat dan air mata. Tapi aku yakin bahwa usaha keras itu tidak akan menghianati. Seberat apapun rintangan, cobaan, hambatan berfikir positif bahwa lelah tapi lillah lebih berarti.

Jika aku flashback ke zaman SMP (Sekolah Menengah Pertama), Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu mata pelajaran yang begitu menyayat hati dan membangkitkan semangat kebangsaan. Di situlah aku mulai tertarik dengan dunia tersebut. Seiring waktu berjalan, masa SMA (Sekolah Menengah Atas) hampir usai dan aku dihadapi oleh beribu pilihan. Pilihan yang mana?  Pilihan dimana pandangan akan berpijak sebagai eskalator ke akhirat. Awalnya ingin konsultasi dahulu dengan orang tua, guru dan juga rekan terdekat mengenai kemampuan yang tepat. Sebagian besar menjawab kejuruan, keagamaan dan sastra. Di sana aku mulai berfikir entah apa sebenarnya. Pada saat itu banyak sekali isu-isu yang terjadi pada pemimpin dan masyarakat. Terharu atas apa yang terjadi bahkan ingin meninggalkan dunia yang berbau politik. Namun sebagai manusia kita tak boleh membiarkan itu terjadi.

“Jika kita tidak menginginkan kehancuran terjadi pada tanah air, maka ubahlah, perjuangkanlah dengan caramu dan warnamu sendiri.”
(Tiara Ilfy Yanti)

Atas karunia Allah SWT aku bisa menggapai impian itu. Hingga semakin yakin bahwa Allah SWT  memberikan ini agar bisa mewujudkan niat-niat di dalam hati. Tapi ada satu tembok penghalang lagi. Memang sebelum bunga itu mekar pasti ada proses-proses dari sebuah perjanan. Sempat mimpi itu musnah dalam sebuah keterbatasan baik dari segi material dan mental merupakan biangkeladinya. Namun aku tetap berusaha memecahkan segala hambatan melalui keyakinan.

“Man Jadda Wajada”

Alhamdulillah, ini bukti kasih sayang Allah SWT atas kekuatan doa dan niat. Bahkan kata-kata yang terlahir di hati dahulunya satu-persatu ditampakkan. Semua itu terjadi lagi dan lagi karena sebuah keyakinan, tekad dan rasa harap kepada Allah SWT, sehingga dengan izin-Nya aku bisa mengembangkan sayap ke pulau seberang. Itulah potret perjuangan menuju sebuah  keabadian.

Waktu terus berlalu, semangat tidak boleh melebur kemana-mana tanpa arah. Harus fokus tanpa melupakan tujuan awal karena aku seorang gadis yang ingin tumbuh menjadi pemuda penebar kebaikan. Sebab sebaik-baiknya hidup adalah orang yang bermanfaat untuk oranglainnya. Menjadi bagian dari keluarga Etos Bandung merupakan hal yang sangat luar biasa bagiku. Di situlah aku belajar mengeksploitasi diri untuk mewujudkan mimpi-mimpi agar dapat menjadi pemuda yang berkontributif dalam lingkungan. Bahkan berada di sini, aku bisa menginvestasikan ilmu-ilmu untuk kampungku nantinya. Sebab sebagai mahasiswa, bukan hanya disungguhkan kepada teori-teori belaka, melainkan sebagai agent of change  bangsa dan negara. Tidak lupa pula Tri Dharma perguruan tinggi, yakni: pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Maka dengan ini aku ingin membuktikan bahwa Tri Dharma perguruan tinggi bukan idealisme semata melainkan realisme nan nyata.

Liburan menyambut semester genap ditahun awal perkuliahan, aku kembali ke kampung halaman dengan membawa sebuah bekal untukku persembahkan kepada orang-orang terdekat. Sederhana namun membekas di memori ingatan. Etos Road to School, itulah dia sarana penting bagi adik-adik SMA (Sekolah Menengah Atas) dalam mengakses informasi pendidikan selanjutnya. Memang keterbatasan informasi, kadang membuat sebagian mereka mengeluh dan putus asa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harapan. Dan bahkan untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas luar pulau Sumatra, banyak yang menyerah akibat kurangnya biaya. Saat itu terlihat pancaran kegalauan dan harapan di mimik wajah mereka seakan mengingatkanku  serentetan kisah dan tekadku sebelumnya dalam menentukan pilihan yang begitu sulit dengan menghancurkan tembok-tembok penghalang.


 Etos Road to School di SMAN kota Padang-Panjang

Waktu Etos Road to School aku bertekad agar adik-adik tidak merasakan kegelisahan yang pernah aku alami sebelumnya. Mereka tidak hanya terpaku pada beasiswa bidikmisi semata, yang kadang belum tentu dapat atau tidaknya. Sehingga membuat mereka berputus asa tanpa ada jalan lainnya. Aku mengingatkan kepada mereka, “Man Jadda Wajada”. Tidak ada yang buntu, pasti ada jalan bagi orang yang bersungguh.

Saatku berdiri di depan kelas untuk menyampaikan sebuah informasi dan motivasi untuk adik-adik, terlihat sekali ekspresi mereka sangat butuh akan dorongan semangat. Terbayang diriku duduk di sana dengan kegalauan yang memuncak. Bukan mereka saja, adik-adik di luar kota sana juga membutuhkannya. Jika dilihat kualitas pendidikan di kota Padang Panjang, alhamdulillah sudah mencapai kemajuan pesat terutama dengan adanya presantren-pesantren ternama, bahkan sekolah unggul negri dengan peringkat tertinggi di Sumatra Barat setiap tahunnya. Membawa banyak kawula muda melanjutkan perguruan tinggi baik di dalam maupun diluar daerah. Hal itu patut disyukuri karena kota Padang Panjang yang dikenal sebagai kota Serambi Mekah adalah kota Pendidikan. Namun ditanya secara langsung kepada siswa SMA (Sekolah Menengah Atas), masih banyak kesulitan bagi mereka dalam mengakses sumber informasi dana kuliah yang kadang membuat mereka berat untuk membayar uang kuliah setiap semesternya. Jadi melalui Etos Road to School kita dapat membagikan energi positif dan informasi-informasi dalam dunia perkuliahan nanti. Agar kuwala muda dengan mudah menggapai harapan dengan mengancur tembok kegagalan serta mengabdi untuk daerah asalnya. Sangat antusias dan bahagia sekali adik-adik tersebut dapat mengetahui informasi baru sebagai penunjang harapannya masing-masing.

Semoga lelahnya kita, tantangan kita, hambatan-hambatan kita dalam melaksanakan Etos Road to School merupakan butiran-butiran keringat pembawa kita ke surga nantinya. Sebab, sekecil apapun kontribusi sangat berpengaruh baik untuk kehidupan kita di dunia dan akhirat maupun untuk orang-orang di sekitar kita. Allah SWT maha tahu dan penuh kasih kepada hambanya yang berusaha menggapai ridho-Nya. Maka berlomba-lombalah melakukan kebaikan dalam mentransfer pengalaman, ilmu-ilmu maupun segala informasi yang membantu  orang banyak.

Ada sebuah kalimat ciptaanku nan sederhana, namun membangkitkan semangatku dikala suram; Pemuda luar biasa, visioner dalam bertindak. Menyusun sebuah perencanaan tanpa berfikir lamban. Menggapai perencanaan tanpa menunda-nunda waktu luang. Mengejar perencanaan dengan asa nan tak pudar. Pemuda, kau memiliki darah bagaikan kobaran api yang membara. Selagi membara, kibarkan api semangat itu untuk menata masa depan. Pemuda, kau punya fikiran jernih dalam merancang kinerja. Selagi jernih, jangan tunggu menjadi keruh akibat butir-butir debu nan tak terjaga. Pemuda sang harapan bangsa dan agama, keluarkan segala kemampuan selagi kau masih bernafas lega. Tidak ada suatu hal bernilai rendah melainkan mempunyai manfaat tersendirinya. Maka bermanfaatlah dalam segala hal kebaikan apapun itu asalkan niat karena Allah SWT. Hiduplah sang pemuda! Bangkitlah dari lelah berkepanjangan. Setelah bangkit, lupa dan ikhlaskan masa usangmu yang suram agar kembali mengalir  jernih dan berguna untuk orang lainnya.


Mozaik 1 : MERANTAU


Zona Nyaman

Karya : Tiara Ilfy Yanti

Dari buku antologi yang berjudul : Life is a Beautiful Ride

project #NulisBukuBarengRobi



Apakah perempuan bisa mengubah dunia? Apakah perempuan bisa bepergian jauh untuk menggapai impiannya selagi muda? Selagi perjuangan masih panjang. Di usia muda perlunya pembekalan pada diri setiap manusia agar dapat menabung sedikit-demi sedikit yang berangsur menjadi bukit, yakni amalan untuk akhirat nanti. Kita tahu, setiap orang memiliki warna yang berbeda. Warna hidup dalam mengayunkan auranya. Begitu juga diri kita sendiri harus bisa menggunakan warna tersendiri agar dapat memberikan manfaat untuk kehidupan. Apalagi menyangkut mimpi seorang perempuan. Mimpi suci yang muncul melalui hati nurani selagi muda dan jua mempersiapkan segala kemungkinan yang datang.

Dalam hidup ini ada banyak pilihan. Pastinya kematian adalah pilihan tak terelakkan bagi setiap yang berjiwa. Lalu kita yang masih muda dan kuat untuk melakukan segala hal. Apa yang telah kita lakukan selama ini? Hanya merengek dan menangis saja menunggu datangnya uang dari orang tua, bermain-main menghabiskan waktu dengan ngobrol, kuliah dengan ketidakseriusan memahami sebuah ilmu yang bermanfaat, atau malah membuang waktu dengan kemewahan hidup duniawi saja. Apakah kita pernah berfikir waktu yang selama ini terbuang sia-sia? Seringkali melihat orang yang menghabiskan waktunya dengan beribadah, berdiskusi, belajar dan bersosialisasi mendapatkan sebuah kekuatan pada dirinya. Berjuang karena Allah SWT, lelah tapi lillah pasti diberikan segala kemudahan untuknya. Maka tuntutlah ilmu dan tebarkanlah kebaikan dengan warnamu, caramu, auramu untuk menghiasi cakrawala kehidupan.

Inilah yang membuatku tersentuh untuk bangkit dan mencoba hal-hal baru untuk menghapus segala beban di masa lalu. Beban bukan suatu musibah, melainkan sebuah lecutan diri agar sadar dan ingat akan tujuan hidup. Allah SWT sudah memberi kita warna-warni itu maka gunakan sebaik-baiknya. Gali dan perjuangkanlah selagi nafasmu masih ada. Coba bayangkan disaat kita sakit, di sana kita dapat mengambil pelajaran bahwa begitu pentingnya waktu dikala sehat. Maka jangan siakan waktu sehatmu untuk berjuang. Lakukanlah dan buang segala ketidakmanfaatan dan bertindaklah, Allah pasti membalas sesuai apa yang kita kerjakan.

Aku  berdoa, Allah kabulkan
Aku bertaubat, Allah ampunkan
Aku menangis, Allah tenangkan
Aku berjuang, Allah berikan
Maka, nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?

Berbagi kisah dari ukiran sederhana dan semoga menjadi sebuah pembelajaran. Tidak terasa waktu berjalan terlalu cepat. Serasa kemarin masih memakai baju putih abu dan bersekolah di tempat yang tak pernah dilupakan. Masuk ke sana bahkan sebuah bukti dari rahmat Allah SWT sehingga dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa dan dipenuhi prestasi tanpa melupakan syariat islam. Disini aku dahulunya menimba ilmu. Aku bagaikan seorang gadis biasa yang tinggal di kota itu. Kecil nan sejuk dan masih sedikit sarana modren dibandingkan kota metropolitan. Sekarang berangsur maju dengan kebijakan pemerintah kota.  Meski tak dikenal banyak orang di pulau seberang, tetapi setiap pengenalan diri aku tetap menyebutkan namanya; kota Padang-Panjang. Relijius, kesejukan dan kenyamanan  kota Serambi Mekah ini membuatku sulit untuk melupakan segala elemen-elemennya. Begitu sulit, namunku akan tetap melalui kehidupan baru ini. Bismillah.

Suara jangkrik menggema dengan alunan merdu menghiasi cakrawala indraku. Lalu-lalang manusia yang penuh sesak dan lincah menuju sebuah harapan hidup. Aku duduk sendirian memandang kertas putih seraya mengukir pena-pena kehidupan yang rapuh, semu dan penuh lika-liku. Berharap agar bertemu hal-hal baru yang sejatinya berbentuk ketekatan birru. Aku tahu,  hidup ini masih saja dihantui perasaan dari gejolak masa lalu. Menyakitkan dan penuh arti yang bahkan aku tidak bisa melupakannya sedikitpun. Melupakan memang bisa dipaksakan, namun bekas itu tidak akan pernah pudar di dalam sebuah kepolosan hati yang membisu.

Semua itu lembaran usang. Ku akhiri segalanya saat mendengar seruan Tuhanku untuk bersujud meminta ampun atas perasaan yang kabur dan berusaha keras berada di luar zona nyamanku. Memang merasa lelah, sulit, dan penuh tantangan. Ya, kalau tidak apakah aku harus seperti ini saja? Tentu tidak! Karena aku yakin bahwa Allah SWT selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya yang sabar. Coba bayangkan seorang pemuda keterbelakangan mental harus  keluar dari zona nyamannya. Bukan sebuah keterbelakangan mental tulen, melainkan akibat perasaan lampau yang dihadapinya semasa kecil yang berpengaruh buruk  sampai diusia berikut. Hidupnya penuh rasa cemas, takut, tidak nyaman dengan dunia luar sehingga membuatnya memilih untuk mengurung diri dan hidup dengan dunia imajinasinya yang akut.

Di hari selanjutnya dia bertemu teman-teman baru dengan penuh sikap kekanak-kanakan. Pada saat itulah pelabelan melekat pada dirinya dan hingga sekarang menjadi suatu hal yang sering dia lakukan. Jika dipandang dalam keadaan psikologi anak, pelabelan berefek buruk atas perkembangan sikap anak. Apalagi menyangkut hal-hal negatif dalam perkembangan jati diri. Selagi tidak bisa melupakan bukan berarti menjadi hambatan untuk membuka pintu masa depan. Malah merasa tercambuk untuk berlari kencang menuju cakrawala. Berniat dengan penuh niat mengubah diri menjadi lebih baik dan bernilai guna untuk kelayak banyak. Yakin bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain sebagai amalan jariyah di kehidupan akhirat.

Berbalik lagi ke masa silam. Saatku harus mempenakan mimpi-mimpi di langit-langit kamar  dengan strategi matang dan tepat pusaran untuk memilih tempat yang penuh tantangan dengan segenap tenaga yang harus dicurahkan. Awalnya memilih tempat yang diminati banyak orang malah sekarang mengubah haluan ketempat yang berbeda.  Di sana orator sangat dibutuhkan sebagai penunjang dunia pengabdian. Aku memilih bukan berarti untuk menyiksa diri di dalam sangkar yang kelam. Memilih untuk mengasah dan membakar api semangat diri untuk menjadi manusia yang siap berkibrah dalam dunia pengabdian maupun kesastraan, seperti sosok Bung Hatta, Buya Hamka, Taufik Ismail dan masih banyak lagi para-para inspirator dengan karya gemilang lainnya. Mereka selain orator, juga menyumbangkan sebuah karya yang luar biasa, abadi dan bernilai guna bagi orang-orang berikutnya. Mereka pemuda tangguh dalam memperjaungkan nasib orang banyak melalui revolusi pemikiran dan pembaharuan. Dari kedua hal ini memiliki kisah tersendiri yang membuatku ingin lebih mendekat dan fokus untuk membuat diri ini memiliki nilai guna untuk kehidupan nantinya.

Masa depan. Memang masa depanlah yang ada di benakku. Visioner untuk merencanakan suatu hal sudah melekat pada diri semenjak sadar akan apa tujuan sampai ke titik ini. Allah SWT telah memberikan jalan dari sebuah coretan lama yang masihku simpan dan bahkan aku bawa ke negri sembrang. Semuanya atas usaha, niat dan doa dari orang-orang yang aku sayangi. Sempat merasa perjalan ini terhenti sejenak akan keterbatasan mental dan materil untuk menggores kehidupan baru. Berusaha mencari jalan keluar untuk dapat meraihnya dan membuktikan niatku untuk dapat mengubah suatu sistem usang ke sistem yang terarah. Ku pilih dan memperjuangkan semuanya dengan menggali segala informasi terkait beasiswa untuk kuliah. Memang, saat itu kondisi perekonomian keluargaku sangat minim. Ibuku sebagai ibu rumah tangga yang sekarang menolong Nenek berdagang, dan Ayahku sebagai buruh Rumah Makan Padang di Rantau membanting tulang siang dan malam. Keadaan fisik mereka tidak sebegitu kuat dari masa dahulu karena faktor usia, Nenek dari keluarga Ibuku yang selalu membatu pekonomian kami sering sakit dan kecapean serta Nenek dan Kakek dari keluarga Ayah juga merasakan hal sama. Aku sempat pasrah dan ingin menghentikan segala harapan palsu. Sempat coretan kertas di langit-langit kamar seakan menjadi mimpi belaka yang berdebu tanpa ada sebuah pembuktian dan tawaan orang-orang atas mimpi-mimpi belaka.

Hari terus berjalan, tiba saatnya aku ingin bangkit kembali dan menumbuhkan niat awal untuk menjadi semakin kuat karena tidak ada sebuah perjuangan tanpa batu kerikil dan batu besar yang dilalui terlebih dahulu. Saat kita mempunyai niat lalu sudah berusaha dan jatuh kembali, itu tidak apa-apa asalkan kembali bangkit dan melupakan hal yang tidak menunjang  tujuan awalku. Kemarin aku melaksanakan coaching bersama pembina asramaku di Beastudi Etos wilayah Bandung. Ku luapkan segalanya atas beban  berat yang membuatku berfikiran negatif lagi akan sebuah identitas kuat yang kupegang saat ini. Sempat ambruk oleh angin kencang dan berusaha keras untuk berdiri ke titik awal. Pembinaku bilang, coba bayangkan ada dua ekor katak, yang satu tuli dan satunya tidak. Mereka sedang melakukan perlombaan lari yang dihadiri oleh ribuan katak lainnya. Saat lari, katak yang tuli fokus mencapai garis finis sedangkan katak yang tidak tuli tidak konsentrasi akibat sorakan katak lainnya. Dari gambaran ini kita diajarkan untuk berkonsentrasi dalam menggapai impian tanpa mendengar kata-kata yang tidak menunjang kesuksessan. Bangkit dan berusahalah walaupun kita berada di luar zona nyaman. Sebab jika kamu keluar dari zona nyaman untuk fokus kepada tujuan suci, insyaallah pasti Allah SWT memberikan kekuatan dan kemudahan untuk kita. Maka jangan pernah takut keluar dari zona nyaman. Lupakan segala penghambat dan raihlah masa depan yang lebih cerah. Maka sebagai perempuan dan juga pemuda, “you can do it!”.

Jumat, 27 April 2018

Jeritan Hati Seorang Buku

Hasil gambar untuk gambar buku

Di sudut ruang terlihat setumpuk barang berdebu
Tebal menutupi huruf yang tak terlihat dikasat matamu
Dingin, sepi dan sunyi tak tersentuh sekalipun
Tersusun rapi hingga tak leluasa mengibarkan sayapku

Tubuhku hanya sepercik kayu yang di olah
Berisi pena serta prosa sastrawan lama
Kejayaan usang pernah ku dapat dahulunya
Kasih sayang setiap waktu dari setiap belaian

Tapi sayang, kenapa kau duakan aku
Kau pilih dia yang punuh aplikasi itu
Aku merana sendirian beribu tahun
Menunggu kembali lambaian halus jiwamu

Tapi entah kenapa nasibku semakin pudar?
Tolong lihatlah...
Lihatlah tubuh yang bedebu di basahi sinaran bola gas dari lubang atap
Tolong lihatlah...
Lihatlah tubuh yang lemah dilalui empat musim sekalipun

Aku tak tahu harus bagaimana
Menjerit tapi tak berbibir
Menangis tapi tak bermata
Mengejar tapi tak berkaki

Tapi siluet sosok itu..
Seakan  memandangku dari kejauhan
Hingga membuat hatiku berdegup kencang
Apakah ini realita atau  sebuah ekspektasi belaka?

Tiba-tiba pesimisku menghilang sekejap
Saat terdengar langkah kaki di belakang pintu yang tak terbuka ribuan tahun lamanya
Terlihat seorang gadis  menujuku
Melangkah tegap dengan rasa kepercayaan

Apakah ini benar? Atau sebuah khayalan?
Dia semakin mendekat dan menghapus debu dengan senyum manis mematikan itu
Sinar cahaya ilahi  menyambar hatiku
Hingga menangis haru tak bisa tertahan

Gadis itu semakin menghapus debu berumur ribuan tahun
Lagi dan lagi bersama sahabatku
Akhirnya aku bisa bercengrama
Terlihat senyuman sahabat yang usang menjadi baru

Dalam hari berbeda
Nuansa bola gas tak seperi dulu
Ratusan orang kau bawa untuk menemaniku
Menemani sampai aku bisa terlihat abadi untuk peradabanmu

Terimakasih dutaku,
Kau datang membawakan kebebasan
Kau datang membawa kebermanfaatan
Kaulah duta hatiku























Jumat, 30 Juni 2017

Pramuka di Tanah longsor

Hey guys edisi kali ini berupa cerita pendek hasil karya saya bersama guru pembimbing saya di SMPN 5 Padang-Panjang dulu. Sebelumnya sudah diposting di blog Ibuk LG, tapi sekarang sedikit saya review ulang.
Semoga bermanfaat ya??? ^_^



Pramuka di Tanah longsor

Siang hari yang panas, di lapangan SMP N 5 semua anggota pramuka berbaris dengan seragam dan perlengkapan yang lengkap. Tasya salah satu ketua regu Melati, dari setiap ketua regu dialah yang paling aktif dalam urusan memimpin apalagi dalam kegiatan bela negara. Sehingga dia di juluki sebagai MISS tahun ini. Selain itu dia juga aktif dalam akademik hingga setiap semester terus berbaris di depan dalam pengumuman juara kelas.

Satu jam sudah berlalu dalam persiapan untuk berkemah, mereka pun dengan semangat berjalan menghadapi terik matahari. Pak Shailil berteriak di ujung barisan depan untuk menyuruh anggota pramuka mengeluarkan lagu yel-yel pramuka agar anggota pramuka semakin semangat.
“PRAMUKA SIAPA YANG PUNYA..PRAMUKA SIAPA YANG PUNYA..PRAMUKA SIAPA YANG PUNYA,,YANG PUNYA INDONESIA..” lagu mereka dengan penuh keceriaan.

Sudah beberapa jam mereka tetap semakin semangat dan kuat meski terik matahari makin menyengat. Apalagi dengan semangatnya Tasya yang menyalakan keceriaan anggota regunya menuju daerah perkemahan. Lebih semaraknya lagi seluruh pasukan pramuka melakukan penjelajahan, kira-kira 3 km menuju lokasi perkemahan yang indah dan di kelilingi perbukitan. Tahun kemaren mereka juga melalakukan perkemahan di areal yang sama. Karena begitu mengesankan Tasya tetap mengusulkan perkemahan tahun ini dilakukan di areal yang sama.

Hari menunjukkan pukul 11 siang mereka sampai di pos perkemahan tepatnya di daerah perhutanan kota Padang Panjang dengan selamat dan hari pun masih terang, matahari belum begitu condong ke Barat. Mereka sesampai disana langsung berbaris dengan rapi. “Siap grak!”gumam dari masing-masing ketua regu tersebut. Di SMPN 5 Padang Panjang anggota pramuka terbagi atas 5 regu. Ada regu Melati, Mawar, Harimau, Elang dan Garuda. Masing-masing terdiri atas 6 orang. Tetapi di dalam regu tersebut Tasya lah yang paling menonjol.

Waktu terus berjalan dengan cepatnya. Pak Shailil selaku sebagai pembina pramuka menyuruh mereka membangun tenda mereka masing masing. Setiap regu dipandu oleh beberapa Pembina yang lain yang masih guru SMPN 5 Padang Panjang di antaranya Bapak Endar, Bapak Edwin, Bapak Adrius, Bapak Hafrizal, Ibu Eli Nofita, Ibuk Ting, Ibuk LG, Ibuk Nursyamsi, Ibuk Yusnidar, Ibuk Cika. Di samping itu ada beberapa alumni SMPN 5 Padang Panjang yang aktif melatih adik tingkatnya di SMPN 5 Padang Panjang. Mereka memang ditetapkan sebagai pelatih pramuka di SMPN 5 Padang panjang. Salah seorang bernama Fauzan yang kayaknya hidupnya untuk pramuka.



“Dif, tolong ambilkan potong kayu di tas ku ya,,?” printah Ija.
“Baik, Ja,” jawab Difani dengan penuh tanggung jawabn. Difani adalah orang yang memiliki kharakter yang penuh tanggung jawab yang tinggi. “Ini…”jawabnya dengan tegas. “Makasih. Kata Ija.
Semua regu pun kliatan sibuk dengan aktivitas mereka masing masing. Dan akhirnya semua tenda sudah berdiri dengan kokoh .

“Puiittt…..” puputan dari Pak Shailill, tanda untuk berkumpul.
“Anak anak semuanya, sekarang kita sudah selesai mendirikan tenda, sekarang Bapak akan membacakan susunan acara kita untuk nanti malam. Jelas pak Shailill.
“Siap baik.!” jawab anggota pramuka dengan kompak.
Pertama kita akan berlomba untuk membuat api dari benda lain, dan siapa yang kalah di beri sanksi untuk memanjat pohon kelapa pada hari esok. Kedua kalian akan menunjukkan bakat kalian semua baik dalam menyanyi, memasak makanan malam dan lomba pemasangan tenda.” Kata pak Shailill dengan panjang lebar.

Semua anggota pramuka pun keliatan senang dengan direncanakannya kegiatan malam tersebut.
Sekarang menunjukkan pukul 4 sore.Mereka pun bergegas untuk melaksanakan sholat Ashar berjamaah di lokasi hutan tersebut. Mereka dengan penuh kekhusyukkan berdoa kepada ALLAH SWT agar mendapatkan keselamatan di kegiatan perkemahan tersebut.
“Anak anak semuanya, sekarang waktunya istirahat sambil membuka bekal yang dibawa dari rumah“ kata buk Cika dengan sifat ketegasannyaBuk Cika adalah salah satu pembina pramuka wanita SMP N5 Padang Panjang yang sangat disiplin dalam kegiatan apapun. Disamping itu dia pernah juara dalam kegiatan pramuka tingkat nasional.

“Baik siap..!!”kata mereka dengan kompak.

Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Sesudah shalat Magrib berjamah mereka akan dinilai oleh Pembina, Pertama makam malam yang dibuat oleh kelompok masing-masing. Kedua penampilan bakat dan ketika pemasangan tenda yang terbagus. Hari semakin dingin angin mulai bergerak agak kencang, tapi semangat mereka tetap membara seperti pramuka yang kekar di tanah air kita. Semua regu menghidangkan masakan kelompok di depan tenda diterangi lampu yang terang sehingga hidangan tiap kelompok tampak nyata. Masing-masing Pembina berputar mencicipi masakan setiap regu. Tampaknya mereka agak lama di kelompok Tasya sambil mengulang mencicpi masakan regu Tasya. Masakan ayam kentaki bikinan kelompok tasya memang enak dan gurih. Mirip masakan yang dijual di pasar. Tasya memang sering masak ayam kentaki yang dilapisi tepung dengan cara special, sehingga mirip rasanya Ayam Kentucki(KFC).

Masing anggota kelompok menampilkan bakat yang telah mereka siapkan dari sekolah. Ketika akan mempilkan bakat di dekat api unggun tiba-tiba gerimis sudah menyebar di pemukiman perkemahan mereka. Dan buyar hujan pun turun membasahi areal perkemahan mereka. Ya terpaksa semua kegiatan tertunda. Semua anggota regu tanpa peluit Pak Sailil bubar memasuki tenda masing-masing. Untung saja di sekiling tenda, mereka membuat parit kecil sehingga air hujan tidak memasuki tenda dan tidak membasahi dasar tenda mereka. Masing-masing anggota regu membuat acara masing-masing di dalam tenda dan didampingi masing-masing Pembina. Masing terdengar suara hiruk pikuk di dalam tenda dan suara kriyuk-kriyuk snack yang dikunyah bekal yang mereka bawa dari rumah.

Malam itu memang belum bersahabat bagi tim pramuka SMPN 5 padang Panjang. Hujan terus mengguyur di daerah pemukiman perkemahan mereka. Pak Sailil berkeliling mengitari daerah perkemahan dengan senter dan jas hujan yang telah disipkannya dari rumah. Rasa tanggung jawab membuat Bapak ini mengawasi anak asuhnya dan Beliau dibantu oleh Fauzan yang aktif membantu anggota regu lainnnya yang ingin mengambil wuduk.

Hari sudah menunjukkan pukul 12 malam dan hujan pun masih belum reda. Masing-masing tenda-tenda sudah mulai diam ditemani angin dingin malam. Pak Sailil dan Pembina lainnya masih duduk di tenda posko dengan masih terdengar gelak tawa disela-sela hujaan yang masih turun. Malam semakin larut, anggota pramuka yang terbiasa berteman dengan alam tak menghiraukan dinginya malam. Bahkan mereka semakin nyenyak tidurnya di dalam tenda kedamaian.

Pagi itu tepatnya hari Minggu, hujan masih turun tapi anggota tim pramuka sudah mulai aktif menjalankan aktivitasnya masing-masing dengan jas hujan yang mereka siapkan, karena mereka berpikir, sedia jas hujan sebelum hujan apalagi di kota hujan ini.
Di tengah keasyikan kegiatan di pagi ini, tiba-tiba terdengar suara seperti BOM menghantam tanah dengan sedikit getaran mengoyangkan tubuh mereka. Sekilas rasa cemas dan keingintahuan sedang menyelimuti hati mereka. Apa yang terjadi. Ketika pertanyaan itu muncul tiba-tiba ada suara minta 
tolong dari arah bukit yang tak jauh dari perkemahan mereka.



“TOLONG…TOLONG…” sorak dari salah satu orang di seberang lereng. Viki dari salah satu ketua dari regu garuda mengalihkan pertanyaan kepada laki paroh baya itu. ”Ada apa pak? Tanya dia dengan penuh kecemasan.
“Nak, di seberang lereng sana ada longsor nak. Kami semua ketakutan, apalagi anak dan keluarga kami semua banyak yang tertimbun.” Kata laki laki itu diiringi tangisan.
“Baik pak, kami bersedia menolong Bapak dan warga semua.” Jawab pak Shailill dengan penuh iklasan.
Merekapun bergegas kesana dengan mengeluarkan alat apa adany. Namun,Rima kliatan cemburut. Tasya pun berpikir kalau Rima suka malas kalau soal nolongin orang. Mereka dengan cuek meninggalkan Rima tanpa ada kata dan sapaan sedikitpun.

Sesampai di sana mereka dengan sibuk menolong banyak orang yang tertimbun di hempit tanah. Mereka keliatan tak ada lelah dan penuh keiklasan mengangkat korban yang berlumuran tanah. Syukurlah orang tersebut masih bernafas.

“Tolong aku nakk.” Sorak dari bawah puing bangunan yang terhimpun tanah. Merekapun menghampiri orang itu dan berusaha menolong nya. Semua warga yang sempat menyelamtkan diri di bawa tim regu perempuan ke tenda mereka masing-masing. Semua tenda-tenda yang semula untuk penginapan mereka penuh terisi dengan warga korban longsor. Pak Sailil nampaknya sedang mengangkat korban longsor dengan tandu dan membawa korban ke samping tenda dan menyusun korban demi korban yang nampaknya tidak bernyawa lagi. Semua anak laki-laki semua berlumuran tanah dan jas hujannya sudah berubah warna jadi lumpur.

Tasya bersama cewek-cewek lain tak kalah sigapnya mengobati korban yang lula-luka dan menyuguhi minuman teh manis dan sedikit makanan ringan dan masih menerima kiriman korban dari tanah longsor itu. Areal pemukiman mereka yang ditata serapi mungkin kini telah menjadi areal yang penuh lumpur. Tasya yang terkenal tangkas dengan sigap membantu para korban dengan Pembina yang lain. Tetes air mata mengalir di sela-sela mata tim pramuka ini melihat anak-anak kecil meraung sambil memanggil orang tuaanya yang tak tahu khabarnya.

Areal perkemahan SMPN 5 ini sudah mirip seperti Posko Penampungan Bencana dan para TIM SAR sudah siaga di Lokasi Bencana dan sudah mengambil alih tugas-tugas Tim Pramuka SMPN 5 Padang Panjang

……………………………….


Bel pun berbunyi,mereka berbaris untuk melaksanakan upacara bendera pada hari Senin. Mereka terkejut saat melihat kehadiran Bapak Wali kota di sekolah tercinta ini.
“Wahh, ada Bapak Wali kota nih. Pasti ada suatu kabar indah nih. Terka Tasya. ”lihat aja dulu, jangan terka sembarangan aja.” Balas Ija dengan penuh canda. Tak disangka mereka terkejut saat Bapak itu memberikan sebuah penghargaan kepada sekolah ini. 

Mereka mengecapkan terimakasih kepada tim Pramuka SMPN 5 Padang Panjang yang siap tangkas menyikapi bencana. Penghargaan diberikan kepaka Bapak Sailil diiringi tepuk tangan seluruh peserta upacara. Kami melakukannya dengan ikhlas Pak tanpa ada maksud ingi dibalas. Kami menjalankan prinsip pramuka, yaitu menolong sesama, tetapi karena Bapak memberikan penghargaan seperti ini kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak dengan kedatangan Bapak ini menjadi sejarah bagi sekolah kami. Sekali lagi tepuk tangan memeriahkan kedatangan Bapak Walikota ke SMPN 5 Padang Panjang.

HIDUP INDONESIA KU!!!





Karya     : Tiara Ilfy Yanti 
Bersama : Buk Lidya Gusti


Sekolah  : SMP N 5 Padang-Panjang

Mozaik 4 : ALAM

Bendera berkibar setengah tiang. Angin berhembus kencang membawa burung-burung terbang dengan penuh suka cita. Bola mata melirik ke kanan, k...