I belive, I can be my self
Oleh Tiara Ilfy Yanti
Tiara Yuvia berjalan melewati koridor kelas berwarna
biru dengan langkah menunduk. Ratusan kakak kelas yang berjalan searah
dengannya hanya disapa singkat. Tepat pada langkah ke 25 dia sampai di suatu
ruangan penuh dengan kicauan-kicauan di setiap sudut kelas.
“Krinkkkkk....krinkkkk”Bel masuk berbunyi. Tanpa
berkutip sedikit pun,ia langsung duduk di bangku paling akhir bagian tegah.
Setiap hari dia selalu merasa gengsi dan rendah diri kalau duduk dengan teman
lain. Itu karna dia merasa sebagai gadis pendiam dan tidak asik di ajak ngomong
oleh orang lain. Ini semua merupakan faktor dari pembunuhan karakter yang dia
alami selama di SMP.
Yah,
sebenarnya tidak juga. Di dalam dirinya ada suatu kemampuan yang belum dia asah
selama ini yaitu bernyanyi. Di dalam keluarganya, mama Via merupakan penyanyi
yang jaya pada masa SMAnya. Namun karna faktor kasih sayang nenek kepada mamanya
tinggi, akhirnya mama Via tidak dapat mengikuti perlombaan nyanyi di luar kota.
Namun, ada hikmah dalam rintangan mama Via. Jika mama Via pergi ke luar kota,
maka sampai sekarang ini Via tidak dapat lahir ke dunia. Karna ada suatu
kecelakaan yang terjadi pada mobil yang membawa peserta lomba itu.
Kalau di
dalam akademik boleh dikatakan kurang. Semenjak ia naik kelas 9 SMP, nilainya
tiba-tiba anjlok karna suatu permasalahan batin yang ia jalani selama 5 tahun
belakangan ini. Tapi karna doa dan usahanya Via dapat melanjutkan sekolahnya di
SMU Unggul Jakarta.
“Hay
Via..... lo ngapain sendirian duduk? Pasti banyak teman-teman yang ngak mau
duduk sama lo.... wow ternyata lo sekarang udah punya poni ya?” ejekan salah
satu anggota geng yang tersadis di SMU nya.
“Aku nya
yang mau duduk sendiri, Lez,” jelas Via dengan nada lembut.
“Jangan
sok lembut lo, mentang-mentang wajah lo imut, malah lo tantang ke imutan
gue.... Disini Cuma geng gue yang paling imut dan bertalenta. Bukan kayak lo
yang kaku dan tak punya harapan untuk masa depan. Nilai lo aja malah pas-pasan
dari gue,” lecehan teman lainnya.
“Ih lo masih diam aja! Kenapa lo ngak sedikit pun
membela diri... Ih dasar penakut!”kata seorang teman yang lainnya lagi.
Via pun tetap diam dan hanya menunduk diam
dengan mata berkaca-kaca. Meski di hati ingin memberontak, tapi dia teringat
pesan neneknya bahwa kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan.
“Hay jangan kalian lukai Via! Dia kan teman
sekelas kita.. Harusnya kita mendukungnya, bukan malah melecehkannya,” kata
seorang cowok yang baru saja memasuki kelas.
“Ngapain lo? Ini kan urusan kami.. Lebih baik
lo pergi ke kantin untuk makan. Soalnya badan lo harus diisi supaya lo berisi,”
ejekan Lez semakin memanas.
“Yuk kita ke kantin, dari pada kita lihat
wajah Via yang sok imut itu!” ajak Selvi.
“Ok broooo,,” jawab mereka serentak.
Sebelum meninggalkan Via dan teman cowok tadi,salah
satu anggota geng itu menendang kursi Via. Dia hanya sabar dan tak memberontak.
“Hy Via... Perkenalkan aku Abib
Andikaswara... panggil saja aku Abib,” perkenalan singkat Andi.
“Salam kenal, nama aku Tiara Yuvia... Pangil
saja aku Via” perkenalan singkat Via dengan wajah senang.
“Boleh kah kita berteman?” tanya Abib dengan
sikap lugunya.
“Boleh
kok,” menampakkan senyum manisnya.
*****
Don’t look back!
“Waduh...
besok ada ulangan harian matematika? Gimana nih... aku belum ngerti bagian
pertidak samaan linear?” tutur Via dengan sikap cemas.
“Via, kita
tidak boleh langsung jatuh karna satu permasalahan? Kita harus yakin pada diri
kita, bahwa kita bisa menjadi yang terbaik dan menyelesaikan semua persoalan
dengan baik,” nasihat Abib.
“Kamu benar Abib,kita tak boleh menyerah dalam satu hal. Walaupun aku sering di bully atau sebaliknya. Aku tidak boleh
melihat ke belakang, dimana masa lalu yang kelam membuatku lemah dan tak
berdaya seperti ini,”kata Via.
“Kalau
begitu kamu harus laksanakan apa yang kamu katakan tadi. Ukurlah dirimu dengan
dirimu sendiri dan jangan kamu mengukur dengan diri orang lain. Mungkin
sekarang kamu sering di lecehkan oleh geng itu, tapi kamu harus yakin kalau
esok mereka akan terkejut atas usaha mu.”
“Ia Abib, aku
janji akan mengubah diri ku menjadi yang terbaik,” jawab Via.
Krinkkkk...krinkkkkk..
Bel masuk pun berbunyi. Tiba lah saatnya ulangan harian matematika dimulai. Via
menarik nafas dalam-dalam dan menutup mata untuk menenangkan hatinya. Meskipun
seluruh badannya terasa dingin, ia tetap berusaha menjawab lembaran demi
lembaran soal dengan tenang dan tawakal.
Pada soal
nomor 2 terakhir, Via mengalami kesulitan dalam menentukan DHP pada garis
linear. Ia tetap mencurahkan tenaganya demi mencapai target. Terus menerus dia
berusaha sampai waktu ujian tersisa 20 menit lagi. Pada saat itu,Via menekurkan
kepalanya dan membaca Al-Fatihah,ayat kursi,dan 3 kul dengan sepenuh hati.
Alhasil ia mendapat suatu petunjuk yang membuatnya sangat bersyukur.
“Hy Via! Tumben
kamu senyum-senyum sendiri? Pasti karna Ulangan tadi ya?” terka Abib.
“Hehehe... bye,,,” kata Via sambil melambaikan
tangan.
“Dasar aneh tu anak,” kata Abib.
Di tegah perjalanan pulang, Via merasa
girang bak popcron yang meletup-letup, sambil menyanyikan lagu yang dia sukai.
Jam
menunjukkan pukul 10:30 WIB. Di hari libur ini, Via sering mengisi waktu dengan
menyanyi dan membaca komik. Tapi sekarang berbeda, ia fokus untuk belajar dan
juga meningkatkan kemampuan menyanyinya di rumah. Ya, tentunya semua dari
dorongan orang tuanya. “Tok..tok..tok...,”bunyi ketokkan pintu. Via pun
bergegas membuka pintunya.
“Ada apa
ya, Pak?” tanya Via.
“Ini ada paket,” kata Bapak pos.
“Dari
siapa, Pak?” tanyanya lagi.
“Ngak
tau,Dek,,. yang jelasnya bapak ngirim paket ini bukan untuk adek sendiri” jelas
pak pos.
“Kepada
siapa saja,Pak?” kepo Via yang makin meningkat.
“Hmmm,, untuk
gadis-gadis yang tinggal di Jakarta atau JABODETABEK, Dek, yang pastinya baca
aja nanti ya, Dek???” jelas Pak pos.
“Ok,,,makasih
Pak,” balas Via.
“Sama-sama,Dek..”
kata pak pos.
Via langsung menutup pintu dan membuka isi
brosur tersebut. Ternyata disana ada kertas yang berisi majalah, foto, formulir
pendaftaran dll.
“Pendaftaran
buat generasi muda yang ingin menjadi idol terkenal di indonesia maupun di luar
indonesia,” tutur Via membaca judul surat itu dengan keras.
“Wah!..
Pas banget, aku ingin sekali menjadi penyanyi terkenal,” kata Via penuh
semangat.
“Tapi,
disini kok ada narinya ya, waduh,, harus bisa nari juga?” dia terkejut.
Dari dulu
dia sangat elergi yang namanya nari. Sebab waktu SMP, dia pernah ngambil nilai
tari dan di tertawai oleh teman-temannya bahwa dia sangat kaku. Hingga sekarang
tidak ada niatnya soal nari dan nari.
“ Itu
brosur apa, Nak?” tanya mama.
Aku
bergegas menyimpan kertas-kertas itu. “Ngak ada apa-apa, Ma.. ini cuma kertas
hafalan Via saja.” Alasannya agar mamanya tidak tahu, karna dia ingin memberi
kejutan buat mamanya.
“Owh.....
Mama mau ke pasar dulu ya? Dan kamu jangan lupa tinggal di rumah baik-baik” nasihat
mama.
“Ia, Ma...”
sahut Via.
*****
Don’t sad
“Lez...
kamu udah dapat kertas brosur itu?” tanya Syifa.
“Udah
dongg.. Pasti kamu udah? Eh yang gue tahu, kalau semua siswi disini dapat
brosur itu..”kata Lez.
“Wah..
tandanya si bacot itu dapat.”
“Ngak
mungkin... dia kan kaku?! Kalau dia ikut pasti sekali seleksi bakal di out!” ejek Lezia.
“Lez, dia
datang,” menunjuk kedepan.
Ia
langsung menarik rambut Via tanpa alasan apapun. Semua terasa kejam dan sangat
menyakitkan buat Via.
“Eh gue tau
kalau lo dapat brosur itu, gue yakin lo ngak akan bakalan lulus seleksi, karna
lo itu kaku dan tak menarik!” sambil melepaskan rambut Via dan membuat nya
terjatuh ke lantai.
Via
menangis tidak tahan atas perlakuan itu. Hatinya sangat terguncang dan makin down. Tiba-tiba datang seorang gadis
yang belum dia kenal.
“Hay dek,,
kamu kenapa nangis?” ternyata kakak kelasnya.
“Ngak ada
apa-apa Kak,” sambil mengusap muka yang berbasahkan air mata.
“Kamu
jangan bo-ong, kakak tahu apa yang
terjadi sama kamu. Sebab, kakak dengar semua percakapan kamu sama anak geng
jahat itu.”
Dia tetap
diam dan tak merespon. Mungkin dia merasa sakit sekali hingga membuat dirinya
ingin menyerah.
“Kamu tahu
ngak, kakak siapa?” menampakkan wajah serius.
Via hanya
menunduk.
“Dulu
kakak sama seperti kamu,, sering di ejek dan di remehkan. Karna percaya bahwa
kak bisa, kakak ikutan audisi itu, alhamdulillah
kakak kepilih dan sekarang giliran mu untuk maju sperti kakak”
“Ngak usah
kamu dengarin mereka, dengarin saja kata batin mu dan jangan takut sama yang
namanya pembunuhan karakter. Sebab kamu juga punya hak untuk me ekspresikan
harapanmu. Ok, kakak masuk kelas dulu yah? Ganbatte!!”
semangat kak Imel.
“Makasih
banyak, aku janji akan jadi diri ku sendiri seperti kakak yang menjadi diri
kakak sendiri,’’ balasnya sambil mengusap matanya.
*****
Ganbatte!!!
“Abib, izinin aku ya besok?
Soalnya kamu pasti tahu,” menunjukkan senyum manisnya.
“Ok
brooo... kamu smangat ya?? Nanti kalo kamu ketemu sama nenek sihir itu hubungi
saja aku,” sahut Abib.
“Ok,”
sambil cingegesan.
Segera Via
menaiki bus yang akan melaju dari Jakarta selatan menuju Jakarta Pusat. Di
tengah perjalanan dia memunyikan lagu “yuuhi wo miteiruka” di MP3 biru
kesayangannya. Dan dia berniat akan melagukan nyanyia itu saat audisi nanti.
Dan dia akan “GANBATTE!!!” and belive,he
can to be myself........
Sesampai
di tempat audisi, dia amat terkejut karena banyak sekali remaja seusianya hadir
untuk mengikuti audisi idol tersebut. Walau hati berdesir untuk balik pulang.
Itu tak boleh terjadi, karna dia berjanji untuk semangat dan membahagiakan
orang tuannya. Namun nasibnya masih diuji.
“Oh. ternyata lo ikut audisi juga ya? ! Ayo ikut aku!!” bentak Lez sambil menarik
keras lengan Via.
“Aduh! sakit,” keluh Via.
“Lo
harus gue kurung disini! Biar lo ngak bakalan ikut dan mati kedinginan disini,” Sambil mendorong Via ke dalam WC dan menguncinya dari dalam.
“Tolong aku Lez, Emangnya apa salah aku?”
sambil mengodor pintu.
Tak satu pun yang acuh dengan panggilan dan kedoran
pintu dari Via. Dia menjadi lemah hingga tersandar di dekat pintu. Namun di
saat yang rumit ini, membuat otak Via berfikir cepat. Alhasil, dia mendapatkan
jalan keluar dari atas atap yang terbuka.
“Alhamdulillah,
ahirnya aku keluar. Sekarang aku harus ke ruang audisi,” semangat Via yang tak
pudar.
Sesampai
di depan ruang audisi dia terkejut bahwa para juri sudah bersiap-siap untuk
pulang. Air mata nya menetes dan badannya tidak dapat bergerak sedikit pun.
“Hy dek, kamu ngapain di depan ruangan ini,”
ternyata ada Kak Imel disana.
“Eh
jangan ngelamun, nantik kamu kesambletan. Hmmm ayo masuk,” tutur Kak Imel lagi.
Dia terkejut kenapa di bolehkan masuk
sedangkan waktu audisinya sudah habis. Yang lebih mengejutkannya lagi, salah
satu juri audisi nya adalah kak Imel. Ternyata kak Imel adalah idol terkenal
yang pernah ikut audisi tahun kemaren.
Tiap-demi tiap audisi dia lalui dengan baik
dan tibalah waktunya pengumuman untuk 21 peserta yang terpilih. Jatung Via
sangat deg..deg..gan saat satu-persatu lot peserta disebutkan.
“Nomor lot 25,” kata pembawa acara.
“Haaa..”
Via terkejut dan langsung bersujud.
Dia sangat tidak percaya bahwa usahanya
selama ini tidak sia-sia. Setelah pengumuman, seluruh peserta pilihan di ajak
foto bersama. Ternyata Via mendapat bagian tengah depan. Hingga dia ingin cepat
pulang dan memberikan kejutan ini kepada mamanya.
“Ma.,” pangilnya.
“Eh kamu udah pulang,Na.. Hmm kok kamu kelihatan
senang banget? Ayo bagi-bagi ceritanya ,” balas Mama dengan keponya.
“Aku lulus audisi,Ma..” ungkap Via.
“Audisi
apa,Nak?” semakin ingin tahu.
“Jadi
idol entertaiment,Ma.” balas Via.
“ Oh yang di TV tadi ya, Mama tadi nonton
pas bagian terakhirnya ada kamu tapi kamu terlambat audisi dan di terima.
Awalnya Mama nggak percaya kalau itu kamu, mungkin itu hanya orang lain yang
cma mirip sma kamu dan sekarang Mama percaya. Maksih ya Nak, ” jelas mama.
“Makasih
kenap, Ma. seharusnya Via yang berterima kasih sama Mama.... sebelumnya Via
minta maaf udah ngerahasiain hal ini. Soalnya Via ingin ngasih kejutan buat Mam.”
memelukan Mama dengan penuh kasih sayang.
“Ngak apa-apa, Nak,” balas mama sambil
memeluk erat Via.
*****
New
day
Sudah dua minggu Via tidak masuk sekolah
karna latihan dan mengikuti pelatihan nari dan nyanyi di luar kota. Sekarang
dia sudah hadir di sekolah dan memulai hari baru. Semua teman-teman memasangkan
spanduk di gerbang sekolah untuk menyambutku dengan sangat gembira.
Dengan penuh kerinduan, dia membalas
semua sapaan dari teman-teman dan juga kakak kelas. Saat aku menuju kelas, aku
melihat Sisca dan teman-teman geng nya berdiri di depan kelas. Via tersenyum manis kepada mereka. Dan
lanjut memasuki kelas.
“Via,,” sorak Lez di luar kelas.
Akupun berbalik dan menghampirinya
dengan penuh semangat.
“Hay Lez. Apa kabar? “ tanya ku. Namun entah mengapa Lez memegang tangan Via hingga membuat Abib dan seluruh teman-teman heran kepada Lezia.
“Via, maafin aku ya! Selama ini aku
sering membuatmu sakit,” meneteskan air mata yang membuat Via merasa sedih.
“Ngak apa- apa kok,Lez... Aku udah
maafin kamu,,” tutur Via.
“Makasih banyak Via, engkau adalah
teman ku yang baikk.” Sisca tersenyum dan bangkit memeluk Via.
Sudah setahun Via menjadi idol, selama
itu ia telah berubah menjadi sosok yang bersinar hingga sekarang. Itu semua
terjadi atas dorongan orang terdekat dan juga dirinya yang berhasil menjadi
diri sendiri. Setiap hari Via berlatih kuat dalam mengisi karir dan juga tidak
lupa belajar. Hingga sekarang dia mendapatkan peringkat 3 di kelas. Baginya itu
semua adalah karunia ALLAH SWT yang selalu menyayanginya.
End...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar