Jumat, 25 September 2015

I belive, I can be my self

I belive, I can be my self
Oleh Tiara Ilfy Yanti
   
   


  INTRODUCE
Tiara Yuvia berjalan melewati koridor kelas berwarna biru dengan langkah menunduk. Ratusan kakak kelas yang berjalan searah dengannya hanya disapa singkat. Tepat pada langkah ke 25 dia sampai di suatu ruangan penuh dengan kicauan-kicauan di setiap sudut kelas.
“Krinkkkkk....krinkkkk”Bel masuk berbunyi. Tanpa berkutip sedikit pun,ia langsung duduk di bangku paling akhir bagian tegah. Setiap hari dia selalu merasa gengsi dan rendah diri kalau duduk dengan teman lain. Itu karna dia merasa sebagai gadis pendiam dan tidak asik di ajak ngomong oleh orang lain. Ini semua merupakan faktor dari pembunuhan karakter yang dia alami selama di SMP.
  Yah, sebenarnya tidak juga. Di dalam dirinya ada suatu kemampuan yang belum dia asah selama ini yaitu bernyanyi. Di dalam keluarganya, mama Via merupakan penyanyi yang jaya pada masa SMAnya. Namun karna faktor kasih sayang nenek kepada mamanya tinggi, akhirnya mama Via tidak dapat mengikuti perlombaan nyanyi di luar kota. Namun, ada hikmah dalam rintangan mama Via. Jika mama Via pergi ke luar kota, maka sampai sekarang ini Via tidak dapat lahir ke dunia. Karna ada suatu kecelakaan yang terjadi pada mobil yang membawa peserta lomba itu.
  Kalau di dalam akademik boleh dikatakan kurang. Semenjak ia naik kelas 9 SMP, nilainya tiba-tiba anjlok karna suatu permasalahan batin yang ia jalani selama 5 tahun belakangan ini. Tapi karna doa dan usahanya Via dapat melanjutkan sekolahnya di SMU Unggul Jakarta.
  “Hay Via..... lo ngapain sendirian duduk? Pasti banyak teman-teman yang ngak mau duduk sama lo.... wow ternyata lo sekarang udah punya poni ya?” ejekan salah satu anggota geng yang tersadis di SMU nya.
     “Aku nya yang mau duduk sendiri, Lez,” jelas Via dengan nada lembut.
     “Jangan sok lembut lo, mentang-mentang wajah lo imut, malah lo tantang ke imutan gue.... Disini Cuma geng gue yang paling imut dan bertalenta. Bukan kayak lo yang kaku dan tak punya harapan untuk masa depan. Nilai lo aja malah pas-pasan dari gue,”  lecehan teman lainnya.
     “Ih lo masih diam aja! Kenapa lo ngak sedikit pun membela diri... Ih dasar penakut!”kata seorang teman yang lainnya lagi.
     Via pun tetap diam dan hanya menunduk diam dengan mata berkaca-kaca. Meski di hati ingin memberontak, tapi dia teringat pesan neneknya bahwa kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan.
    “Hay jangan kalian lukai Via! Dia kan teman sekelas kita.. Harusnya kita mendukungnya, bukan malah melecehkannya,” kata seorang cowok yang baru saja memasuki kelas.
     “Ngapain lo? Ini kan urusan kami.. Lebih baik lo pergi ke kantin untuk makan. Soalnya badan lo harus diisi supaya lo berisi,” ejekan Lez semakin memanas.
     “Yuk kita ke kantin, dari pada kita lihat wajah Via yang sok imut itu!” ajak Selvi.
      “Ok broooo,,” jawab mereka serentak.
     Sebelum meninggalkan Via dan teman cowok tadi,salah satu anggota geng itu menendang kursi Via. Dia hanya sabar dan tak memberontak.
      “Hy Via... Perkenalkan aku Abib Andikaswara... panggil saja aku Abib,” perkenalan singkat Andi.
       “Salam kenal, nama aku Tiara Yuvia... Pangil saja aku Via” perkenalan singkat Via dengan wajah senang.
       “Boleh kah kita berteman?” tanya Abib dengan sikap lugunya.
       “Boleh kok,” menampakkan senyum manisnya.      
                                                     *****

    Don’t look back!
    “Waduh... besok ada ulangan harian matematika? Gimana nih... aku belum ngerti bagian pertidak samaan linear?” tutur Via dengan sikap cemas.
   “Via, kita tidak boleh langsung jatuh karna satu permasalahan? Kita harus yakin pada diri kita, bahwa kita bisa menjadi yang terbaik dan menyelesaikan semua persoalan dengan baik,” nasihat Abib.
   “Kamu benar Abib,kita tak boleh menyerah dalam satu hal. Walaupun aku sering di bully atau sebaliknya. Aku tidak boleh melihat ke belakang, dimana masa lalu yang kelam membuatku lemah dan tak berdaya seperti ini,”kata Via.
   “Kalau begitu kamu harus laksanakan apa yang kamu katakan tadi. Ukurlah dirimu dengan dirimu sendiri dan jangan kamu mengukur dengan diri orang lain. Mungkin sekarang kamu sering di lecehkan oleh geng itu, tapi kamu harus yakin kalau esok mereka akan terkejut atas usaha mu.”
   “Ia Abib, aku janji akan mengubah diri ku menjadi yang terbaik,” jawab Via.
     Krinkkkk...krinkkkkk.. Bel masuk pun berbunyi. Tiba lah saatnya ulangan harian matematika dimulai. Via menarik nafas dalam-dalam dan menutup mata untuk menenangkan hatinya. Meskipun seluruh badannya terasa dingin, ia tetap berusaha menjawab lembaran demi lembaran soal dengan tenang dan tawakal.
     Pada soal nomor 2 terakhir, Via mengalami kesulitan dalam menentukan DHP pada garis linear. Ia tetap mencurahkan tenaganya demi mencapai target. Terus menerus dia berusaha sampai waktu ujian tersisa 20 menit lagi. Pada saat itu,Via menekurkan kepalanya dan membaca Al-Fatihah,ayat kursi,dan 3 kul dengan sepenuh hati. Alhasil ia mendapat suatu petunjuk yang membuatnya sangat bersyukur.
     “Hy Via! Tumben kamu senyum-senyum sendiri? Pasti karna Ulangan tadi ya?” terka Abib.
      “Hehehe... bye,,,” kata Via sambil melambaikan tangan.
       “Dasar aneh tu anak,” kata Abib.
      Di tegah perjalanan pulang, Via merasa girang bak popcron yang meletup-letup, sambil menyanyikan lagu yang dia sukai.
     Jam menunjukkan pukul 10:30 WIB. Di hari libur ini, Via sering mengisi waktu dengan menyanyi dan membaca komik. Tapi sekarang berbeda, ia fokus untuk belajar dan juga meningkatkan kemampuan menyanyinya di rumah. Ya, tentunya semua dari dorongan orang tuanya. “Tok..tok..tok...,”bunyi ketokkan pintu. Via pun bergegas membuka pintunya.
    “Ada apa ya, Pak?” tanya Via.
    “Ini ada  paket,” kata Bapak pos.
    “Dari siapa, Pak?” tanyanya lagi.
    “Ngak tau,Dek,,. yang jelasnya bapak ngirim paket ini bukan untuk adek sendiri” jelas pak pos.
    “Kepada siapa saja,Pak?” kepo Via yang makin meningkat.
    “Hmmm,, untuk gadis-gadis yang tinggal di Jakarta atau JABODETABEK, Dek, yang pastinya baca aja nanti ya, Dek???” jelas Pak pos.
    “Ok,,,makasih Pak,” balas Via.
    “Sama-sama,Dek..” kata pak pos.
     Via langsung menutup pintu dan membuka isi brosur tersebut. Ternyata disana ada kertas yang berisi majalah, foto, formulir pendaftaran dll.
    “Pendaftaran buat generasi muda yang ingin menjadi idol terkenal di indonesia maupun di luar indonesia,” tutur Via membaca judul surat itu dengan keras.
      “Wah!.. Pas banget, aku ingin sekali menjadi penyanyi terkenal,” kata Via penuh semangat.
     “Tapi, disini kok ada narinya ya, waduh,, harus bisa nari juga?” dia terkejut.
    Dari dulu dia sangat elergi yang namanya nari. Sebab waktu SMP, dia pernah ngambil nilai tari dan di tertawai oleh teman-temannya bahwa dia sangat kaku. Hingga sekarang tidak ada niatnya soal nari dan nari.
   “ Itu brosur apa, Nak?” tanya mama.
     Aku bergegas menyimpan kertas-kertas itu. “Ngak ada apa-apa, Ma.. ini cuma kertas hafalan Via saja.” Alasannya agar mamanya tidak tahu, karna dia ingin memberi kejutan buat mamanya.
     “Owh..... Mama mau ke pasar dulu ya? Dan kamu jangan lupa tinggal di rumah baik-baik” nasihat mama.
     “Ia, Ma...” sahut Via.
                            
                                         *****
                        Don’t sad       
      “Lez... kamu udah dapat kertas brosur itu?” tanya Syifa.
     “Udah dongg.. Pasti kamu udah? Eh yang gue tahu, kalau semua siswi disini dapat brosur itu..”kata Lez.
     “Wah.. tandanya si bacot itu dapat.”
     “Ngak mungkin... dia kan kaku?! Kalau dia ikut pasti sekali seleksi bakal di out!” ejek Lezia.
     “Lez, dia datang,” menunjuk kedepan.
     Ia langsung menarik rambut Via tanpa alasan apapun. Semua terasa kejam dan sangat menyakitkan buat Via.
     “Eh gue tau kalau lo dapat brosur itu, gue yakin lo ngak akan bakalan lulus seleksi, karna lo itu kaku dan tak menarik!” sambil melepaskan rambut Via dan membuat nya terjatuh ke lantai.
     Via menangis tidak tahan atas perlakuan itu. Hatinya sangat terguncang dan makin down. Tiba-tiba datang seorang gadis yang belum dia kenal.
     “Hay dek,, kamu kenapa nangis?” ternyata kakak kelasnya.
     “Ngak ada apa-apa Kak,” sambil mengusap muka yang berbasahkan air mata.
     “Kamu jangan bo-ong,  kakak tahu apa yang terjadi sama kamu. Sebab, kakak dengar semua percakapan kamu sama anak geng jahat itu.”
     Dia tetap diam dan tak merespon. Mungkin dia merasa sakit sekali hingga membuat dirinya ingin menyerah.
     “Kamu tahu ngak, kakak siapa?” menampakkan wajah serius.
     Via hanya menunduk.
     “Dulu kakak sama seperti kamu,, sering di ejek dan di remehkan. Karna percaya bahwa kak bisa, kakak ikutan audisi itu, alhamdulillah kakak kepilih dan sekarang giliran mu untuk maju sperti kakak”
     “Ngak usah kamu dengarin mereka, dengarin saja kata batin mu dan jangan takut sama yang namanya pembunuhan karakter. Sebab kamu juga punya hak untuk me ekspresikan harapanmu. Ok, kakak masuk kelas dulu yah? Ganbatte!!” semangat kak Imel.
     “Makasih banyak, aku janji akan jadi diri ku sendiri seperti kakak yang menjadi diri kakak sendiri,’’ balasnya sambil mengusap matanya.

                                             *****
     Ganbatte!!!
     “Abib, izinin aku ya besok? Soalnya kamu pasti tahu,” menunjukkan senyum manisnya.
     “Ok brooo... kamu smangat ya?? Nanti kalo kamu ketemu sama nenek sihir itu hubungi saja aku,” sahut Abib.
     “Ok,” sambil cingegesan.
     Segera Via menaiki bus yang akan melaju dari Jakarta selatan menuju Jakarta Pusat. Di tengah perjalanan dia memunyikan lagu “yuuhi wo miteiruka” di MP3 biru kesayangannya. Dan dia berniat akan melagukan nyanyia itu saat audisi nanti. Dan dia akan “GANBATTE!!!” and belive,he can to be myself........
     Sesampai di tempat audisi, dia amat terkejut karena banyak sekali remaja seusianya hadir untuk mengikuti audisi idol tersebut. Walau hati berdesir untuk balik pulang. Itu tak boleh terjadi, karna dia berjanji untuk semangat dan membahagiakan orang tuannya. Namun nasibnya masih diuji.
     “Oh. ternyata lo ikut audisi juga ya? ! Ayo ikut aku!!” bentak Lez sambil menarik keras lengan Via.
      “Aduh! sakit,” keluh Via.
      “Lo harus gue kurung disini! Biar lo ngak bakalan ikut dan mati kedinginan disini,” Sambil mendorong Via ke dalam WC dan menguncinya dari dalam.
       “Tolong aku Lez, Emangnya apa salah aku?” sambil mengodor pintu.
Tak satu pun yang acuh dengan panggilan dan kedoran pintu dari Via. Dia menjadi lemah hingga tersandar di dekat pintu. Namun di saat yang rumit ini, membuat otak Via berfikir cepat. Alhasil, dia mendapatkan jalan keluar dari atas atap yang terbuka.
      “Alhamdulillah, ahirnya aku keluar. Sekarang aku harus ke ruang audisi,” semangat Via yang tak pudar.
      Sesampai di depan ruang audisi dia terkejut bahwa para juri sudah bersiap-siap untuk pulang. Air mata nya menetes dan badannya tidak dapat bergerak sedikit pun.
      “Hy dek, kamu ngapain di depan ruangan ini,” ternyata ada Kak Imel disana.
     “Eh jangan ngelamun, nantik kamu kesambletan. Hmmm ayo masuk,” tutur Kak Imel lagi.
      Dia terkejut kenapa di bolehkan masuk sedangkan waktu audisinya sudah habis. Yang lebih mengejutkannya lagi, salah satu juri audisi nya adalah kak Imel. Ternyata kak Imel adalah idol terkenal yang pernah ikut audisi tahun kemaren.
        Tiap-demi tiap audisi dia lalui dengan baik dan tibalah waktunya pengumuman untuk 21 peserta yang terpilih. Jatung Via sangat deg..deg..gan saat satu-persatu lot peserta disebutkan.
         “Nomor lot 25,” kata pembawa acara.
         “Haaa..” Via terkejut dan langsung bersujud.
       Dia sangat tidak percaya bahwa usahanya selama ini tidak sia-sia. Setelah pengumuman, seluruh peserta pilihan di ajak foto bersama. Ternyata Via mendapat bagian tengah depan. Hingga dia ingin cepat pulang dan memberikan kejutan ini kepada mamanya.
            “Ma.,” pangilnya.
           “Eh kamu udah pulang,Na.. Hmm kok kamu kelihatan senang banget? Ayo bagi-bagi ceritanya ,” balas Mama dengan keponya.
           “Aku lulus audisi,Ma..” ungkap Via.
           “Audisi apa,Nak?” semakin ingin tahu.
           “Jadi idol entertaiment,Ma.” balas Via.
           “ Oh yang di TV tadi ya, Mama tadi nonton pas bagian terakhirnya ada kamu tapi kamu terlambat audisi dan di terima. Awalnya Mama nggak percaya kalau itu kamu, mungkin itu hanya orang lain yang cma mirip sma kamu dan sekarang Mama percaya. Maksih ya Nak, ” jelas mama.
          “Makasih kenap, Ma. seharusnya Via yang berterima kasih sama Mama.... sebelumnya Via minta maaf udah ngerahasiain hal ini. Soalnya Via ingin ngasih kejutan buat Mam.” memelukan Mama dengan penuh kasih sayang.
            “Ngak apa-apa, Nak,” balas mama sambil memeluk erat Via.
                                        
                                                     *****
                               New day
        Sudah dua minggu Via tidak masuk sekolah karna latihan dan mengikuti pelatihan nari dan nyanyi di luar kota. Sekarang dia sudah hadir di sekolah dan memulai hari baru. Semua teman-teman memasangkan spanduk di gerbang sekolah untuk menyambutku dengan sangat gembira.
         Dengan penuh kerinduan, dia membalas semua sapaan dari teman-teman dan juga kakak kelas. Saat aku menuju kelas, aku melihat Sisca dan teman-teman geng nya berdiri di depan  kelas. Via tersenyum manis kepada mereka. Dan lanjut memasuki kelas.
         “Via,,” sorak Lez di luar kelas.
          Akupun berbalik dan menghampirinya dengan penuh semangat.
                             “Hay Lez. Apa kabar? “ tanya ku. 
             Namun entah mengapa Lez memegang tangan Via hingga membuat Abib dan seluruh teman-teman heran kepada Lezia.
           “Via, maafin aku ya! Selama ini aku sering membuatmu sakit,” meneteskan air mata yang membuat Via merasa sedih.
            “Ngak apa- apa kok,Lez... Aku udah maafin kamu,,” tutur Via.
          “Makasih banyak Via, engkau adalah teman ku yang baikk.” Sisca tersenyum dan bangkit memeluk Via.
               Sudah setahun Via menjadi idol, selama itu ia telah berubah menjadi sosok yang bersinar hingga sekarang. Itu semua terjadi atas dorongan orang terdekat dan juga dirinya yang berhasil menjadi diri sendiri. Setiap hari Via berlatih kuat dalam mengisi karir dan juga tidak lupa belajar. Hingga sekarang dia mendapatkan peringkat 3 di kelas. Baginya itu semua adalah karunia ALLAH SWT yang selalu menyayanginya.
                
                                                     End...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mozaik 4 : ALAM

Bendera berkibar setengah tiang. Angin berhembus kencang membawa burung-burung terbang dengan penuh suka cita. Bola mata melirik ke kanan, k...