Rabu, 30 September 2020

Mozaik 4 : ALAM

Bendera berkibar setengah tiang. Angin berhembus kencang membawa burung-burung terbang dengan penuh suka cita. Bola mata melirik ke kanan, ke kiri dan ke depan menyisakan rasa menjalar penuh makna. Saat bola mata menatap satu titik. Sembari, menghirup udara yang semakin menjadi-jadi. Cahya kerlap kerlip dari bola gas itu dimainkan awan hingga masuk ke rongga dada. Udara itu amat sejuk dan menyejukkan rasa.

.....Sungguh rasa syukur ini amat mendalam atas waktu yang telah Allah berikan....

Tiba saat ku perlahan menutup mata sejenak menikmati suara alam dengan alunan melodi nan menyatu menjadi obat manjur ala jiwa. Manjur dan mudah di dapatkan bagi setiap diri yang menyisakan waktu ke sana.

Bola mata kembali menilik satu per satu pepohonan. Sungguh, kenapa pepohonan ini beragam bentuknya? Ada yang tinggi lebat daunnya, ada yang tinggi tipis daunnya, ada yang pendek lebat daunya, ada yang pendek tipis daunnya dan ada yang tak berdaun tapi menjualang tinggi,  dst. Jika dipandang dari segi warna daunnya ada yang berwarna hijau, hijau kekuningan, kuning, coklat dst. Keragaman itu meyilang menjadi satu pohon yang unik. 

Masya Allah.. 

Dengan mata yang Allah berikan, ada sebuah pesan tersendiri dari setiap yang tertangkap oleh mata. Sedikit, sekecil dan secuil apapun itu.

Disini ku dapatkan, bahwa setiap manusia memiliki warnanya tersendiri. Tak ada yang identik meski kembar pun. Setiap individu-individu pasti memiliki keunikan yang saling menyatu dan menyatukan. 

Terkait keberhasilan setiap orang, tak bisa kita jadikan sebuah persamaan. Kita punya energi, interpretasi dan daya masing-masing. Jika kita menengok kepada daya, energi dan warna kita sendiri, yakinlah bahwa kebahagiaan sebenarnya itu akan terlahir. 

Kita punya Allah yang memberikan amanah untuk melewati jembatan ini. Pastinya pada diri kita terdapat kemampuan, kekuatan dan energi sebagai sarana menuju tujuan kehidupan. 

Maka, tenang.. Jangan khawatir... 

Gunakan apa yang telah Allah berikan kepada diri kita. Tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. 

Ketahuilah, hakikat hidup manusia kembali kepada diri sendiri. Seberapa berartikah hidup kita? Seberapa bermanfaatkah diri kita? Maka jangan sia-siakan apa yang ada pada diri untuk dikembangkan sebagai sarana menuju Ridho-Nya Sang Ilahi.

Inilah pesan yang aku dapatkan. Memberikan lecutan untuk menghargai apa yang ada pada diri. Apa yang telah Allah beri. Semoga kita dapat mengoptimalkan hal itu dengan ragam cara, teknik, dan energi masing-masing. Dengan tetap memandang dan meresapi navigasi kehidupan kita, yakni Al-Qur'an dan Sunnah. 


Apakah kita bisa? pasti bisa. 

Sungguh, Allah melihat proses kita, usaha keras kita. 🙂


#selfreminder

📝Birru Lembayuna

Mozaik 4 : ALAM

Bendera berkibar setengah tiang. Angin berhembus kencang membawa burung-burung terbang dengan penuh suka cita. Bola mata melirik ke kanan, k...