
Di sudut
ruang terlihat setumpuk barang berdebu
Tebal
menutupi huruf yang tak terlihat dikasat matamu
Dingin, sepi
dan sunyi tak tersentuh sekalipun
Tersusun
rapi hingga tak leluasa mengibarkan sayapku
Tubuhku
hanya sepercik kayu yang di olah
Berisi pena
serta prosa sastrawan lama
Kejayaan
usang pernah ku dapat dahulunya
Kasih sayang
setiap waktu dari setiap belaian
Tapi sayang,
kenapa kau duakan aku
Kau pilih
dia yang punuh aplikasi itu
Aku merana
sendirian beribu tahun
Menunggu
kembali lambaian halus jiwamu
Tapi entah
kenapa nasibku semakin pudar?
Tolong
lihatlah...
Lihatlah
tubuh yang bedebu di basahi sinaran bola gas dari lubang atap
Tolong
lihatlah...
Lihatlah
tubuh yang lemah dilalui empat musim sekalipun
Aku tak tahu
harus bagaimana
Menjerit
tapi tak berbibir
Menangis
tapi tak bermata
Mengejar
tapi tak berkaki
Tapi siluet
sosok itu..
Seakan memandangku dari kejauhan
Hingga
membuat hatiku berdegup kencang
Apakah ini
realita atau sebuah ekspektasi belaka?
Tiba-tiba
pesimisku menghilang sekejap
Saat
terdengar langkah kaki di belakang pintu yang tak terbuka ribuan tahun lamanya
Terlihat
seorang gadis menujuku
Melangkah tegap
dengan rasa kepercayaan
Apakah ini
benar? Atau sebuah khayalan?
Dia semakin
mendekat dan menghapus debu dengan senyum manis mematikan itu
Sinar cahaya
ilahi menyambar hatiku
Hingga menangis
haru tak bisa tertahan
Gadis itu
semakin menghapus debu berumur ribuan tahun
Lagi dan
lagi bersama sahabatku
Akhirnya aku
bisa bercengrama
Terlihat
senyuman sahabat yang usang menjadi baru
Dalam hari
berbeda
Nuansa bola
gas tak seperi dulu
Ratusan
orang kau bawa untuk menemaniku
Menemani
sampai aku bisa terlihat abadi untuk peradabanmu
Terimakasih
dutaku,
Kau datang
membawakan kebebasan
Kau datang
membawa kebermanfaatan
Kaulah duta hatiku